Investor Tarik Dana Besar dari Wall Street ke Pasar Eropa dan Asia
Internasional

Investor Tarik Dana Besar dari Wall Street ke Pasar Eropa dan Asia

JAKARTA – Dominasi pasar saham Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun ditopang oleh euforia kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai kehilangan daya tarik. Investor domestik tercatat menarik modal dari bursa Wall Street secara masif, dengan laju tercepat dalam 16 tahun terakhir.

Gelombang penarikan dana ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap valuasi saham raksasa teknologi AS yang dinilai sudah terlalu mahal. Kondisi tersebut mendorong pergeseran portofolio ke bursa luar negeri yang menawarkan imbal hasil dividen lebih tinggi serta valuasi harga yang dinilai lebih rasional.

Mengutip Reuters (20/2), data LSEG/Lipper menunjukkan bahwa manajer investasi yang berbasis di Amerika Serikat telah menarik dana sebesar US$ 75 miliar dari produk ekuitas domestik dalam enam bulan terakhir.

Puncak penarikan terjadi sejak awal 2026, dengan arus keluar mencapai US$ 52 miliar hanya dalam delapan minggu pertama. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak 2010.

Survei manajer dana yang dilakukan Bank of America pada Februari juga mengonfirmasi bahwa perpindahan dana dari saham AS ke pasar berkembang (emerging markets) saat ini berlangsung pada tingkat tercepat dalam lima tahun terakhir.

Dari sisi teknikal, kesenjangan valuasi menjadi faktor utama yang mendorong migrasi modal global ini. Indeks S&P 500 saat ini diperdagangkan pada price-to-earnings ratio (PER) sebesar 21,8 kali proyeksi laba, level yang dianggap sangat premium. Valuasi tersebut membuat investor mulai mengurangi eksposur terhadap saham berkapitalisasi besar seperti Nvidia, Meta, dan Microsoft.

Sebagai perbandingan, pasar saham Eropa diperdagangkan pada PER sekitar 15 kali proyeksi laba, sementara Jepang berada di kisaran 17 kali dan China sekitar 13,5 kali, menunjukkan valuasi yang jauh lebih murah dibandingkan pasar AS.

Laura Cooper, pakar strategi investasi global di Nuveen, menyebut kondisi ini sebagai rotasi global dari saham pertumbuhan (growth stocks) menuju saham bernilai (value stocks). Ia mencontohkan kinerja saham perbankan Eropa yang melonjak hingga 67% sepanjang tahun lalu.

Arus modal yang keluar dari Amerika Serikat kini mengalir ke berbagai pasar global. Sepanjang tahun ini, tercatat US$ 26 miliar dana segar masuk ke pasar ekuitas negara berkembang, dengan Korea Selatan memimpin arus masuk sebesar US$ 2,8 miliar, disusul Brasil sebesar US$ 1,2 miliar.

Data kinerja historis selama 12 bulan terakhir juga memperkuat daya tarik pasar luar negeri. Ketika indeks S&P 500 hanya mencatat kenaikan sekitar 14%, indeks Nikkei di Tokyo melonjak 43%, indeks STOXX 600 Eropa naik 26%, sementara KOSPI Korea Selatan meroket hingga 100% jika dihitung dalam denominasi dolar AS.

Menariknya, rotasi global ini justru dipercepat oleh kebijakan ekonomi pada era Presiden Donald Trump. Pelemahan nilai tukar dolar AS sekitar 10% terhadap sekeranjang mata uang utama sejak pelantikannya tahun lalu memang membuat aset asing menjadi lebih mahal bagi investor berbasis AS.

Namun di sisi lain, pelemahan dolar tersebut memberikan keuntungan ganda. Dividen dari pasar luar negeri yang berkinerja lebih baik akan bernilai lebih besar ketika dikonversi kembali ke dolar AS, sehingga memberikan tambahan imbal hasil bagi investor yang berburu dividend yield.

Kevin Thozet, Penasihat Portofolio di Carmignac, menilai bahwa derasnya aliran modal ke Eropa dan Asia ini berpotensi menjadi awal dari rotasi global berskala besar dalam jangka panjang. (SF)

You can share this post!