Radar News - Kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, menyebabkan lima orang meninggal dunia dan puluhan penumpang lainnya dievakuasi. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan mengenai sistem keselamatan perkeretaapian.
Kronologi kejadian bermula ketika sebuah taksi listrik diduga menerobos perlintasan di kawasan Bulak Kapal dan tertabrak KRL yang melaju dari arah Cikarang menuju Jakarta. Dampak dari tabrakan tersebut membuat KRL berhenti mendadak di jalur rel.
Anne Purba, perwakilan PT KAI, menginformasikan bahwa identitas korban masih dalam proses pendataan. Ia menegaskan bahwa seluruh penumpang KA Argo Bromo Anggrek dalam kondisi selamat. Salah satu asisten masinis yang terlibat dalam insiden tersebut menyatakan ada kesalahan pada sinyal saat KA Argo Bromo Anggrek ingin memasuki Stasiun Bekasi Timur. Ia menjelaskan adanya sinyal yang eror sebelum kejadian dan menyebutkan bahwa seharusnya sinyal menunjukkan urutan hijau, kuning, dan merah.
Sistem persinyalan yang digunakan di Indonesia, yaitu Automatic Block System (ABS), membagi jalur rel menjadi beberapa bagian, di mana setiap blok hanya boleh diisi oleh satu kereta dalam satu waktu. Ketika satu blok terisi, sinyal di belakangnya berubah menjadi merah untuk menghentikan kereta yang datang. Namun, jika ada gangguan pada sensor atau kondisi darurat, sistem tidak selalu dapat mendeteksi dengan tepat, yang dapat berujung pada kecelakaan seperti yang terjadi di Bekasi Timur.