Ledakan di Sekretariat KNPB: Tanda Intimidasi Terhadap Aktivis Papua
Sinyal Peristiwa

Ledakan di Sekretariat KNPB: Tanda Intimidasi Terhadap Aktivis Papua

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Pengurus pusat Komite Nasional Papua Barat (KNPB) mengungkapkan bahwa ledakan bom yang terjadi di sekretariat mereka di Kampwolker, Waena, kota Jayapura, pada Senin (16/3/2026) dini hari merupakan bagian dari pola intimidasi yang kian meluas terhadap aktivis dan kebebasan sipil di Papua.

Menurut laporan, benda yang diduga sebagai bom dijatuhkan menggunakan pesawat tanpa awak atau drone ke halaman sekretariat KNPB. Ketua Umum KNPB Pusat, Agus Kossay, menilai bahwa serangan yang berulang dengan metode yang semakin canggih menunjukkan adanya keterlibatan pihak tertentu yang terorganisir.

Pola Serangan yang Mengancam Kebebasan Sipil

Agus Kossay menyatakan, "Rangkaian serangan mulai dari penggunaan bom rakitan, drone, hingga intimidasi terhadap jurnalis dan aktivis HAM merupakan bentuk teror terbuka yang mengancam kebebasan pers dan ruang demokrasi di Papua." Ia juga menegaskan bahwa insiden ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan sejumlah peristiwa lain yang menimpa jurnalis dan pembela hak asasi manusia.

Contoh kasus yang disebutkan Agus antara lain adalah serangan bom molotov terhadap kantor redaksi Jubi pada 16 Oktober 2024 dan penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus pada 13 Maret 2026. Menurutnya, rangkaian peristiwa ini merupakan upaya sistematis untuk membungkam pembela HAM dan pekerja media, meskipun perlindungan terhadap mereka telah diatur dalam berbagai instrumen hukum.

Keterangan Saksi dan Temuan di Lokasi

Ketua I KNPB Pusat, Warpo Wetipo, mengungkapkan bahwa ledakan terjadi sekitar dua meter dari dinding kantor saat para pengurus sedang beristirahat. "Suara ledakan keras membangunkan kami dan juga mengejutkan warga sekitar. Di lokasi terbentuk lubang seperti kolam kecil akibat ledakan tersebut," kata Warpo.

Di tempat kejadian, sejumlah barang bukti ditemukan, termasuk potongan besi, karton, lakban, serta mur dan baut kecil yang diduga merupakan bagian dari bahan peledak. Semua temuan telah didokumentasikan oleh anggota KNPB.

Kecaman dan Tuntutan KNPB

Warpo menambahkan bahwa insiden ini menambah daftar kekerasan di lokasi yang sama, mengingat pada 17 Januari 2026, sekretariat KNPB Pusat juga sempat diserang bom molotov oleh orang tak dikenal yang menyebabkan kebakaran pada bagian dinding. Pelaku pada waktu itu melarikan diri menggunakan mobil yang menunggu di depan lokasi, sementara barang bukti seperti jerigen bahan bakar dan sarung tangan ditemukan di tempat kejadian.

KNPB mengecam keras rangkaian teror tersebut, menilai tindakan itu sebagai bentuk pembungkaman ruang demokrasi serta pelanggaran hak asasi manusia di Tanah Papua. Mereka mendesak aparat, khususnya Polda Papua, untuk segera mengusut tuntas pelaku, termasuk aktor intelektual di balik serangan itu. KNPB juga menyerukan penghentian segala bentuk intimidasi terhadap aktivis, pekerja kemanusiaan, dan jurnalis.

"Kami menegaskan bahwa keamanan dan kebebasan sipil harus dijamin bagi seluruh masyarakat, khususnya para pembela HAM dan insan pers di Papua," kata Agus Kossay.

You can share this post!