Literasi Gizi Rendah Jadi Tantangan Kesehatan di Kota
Sosial

Literasi Gizi Rendah Jadi Tantangan Kesehatan di Kota

Radar News - Permasalahan gizi di Indonesia kini tidak lagi identik dengan kemiskinan atau keterbatasan akses pangan. Di perkotaan, persoalan justru banyak dipicu oleh rendahnya literasi gizi dan pola konsumsi yang tidak terkendali.

Hal itu disampaikan Guru Besar Ilmu Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ikeu Tanziha, M.S., dalam talkshow " Ketemu Makna: Ramadan sebagai Momentum Membangun Keluarga Sadar Gizi" yang digelar Kompasiana di Shangri-La Hotel, Jakarta, Senin (2/3/2026).

"Persoalan paling umum itu adalah rendahnya literasi gizi. Literasi gizi adalah kemampuan memilih makanan sehat dan berdaya untuk menolak yang tidak sehat," jelasnya.

Ia memaparkan bahwa pilihan makanan (food choice) dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari preferensi, pendapatan, hingga keterbatasan waktu dan teknologi.

"Sekarang orang tidak perlu bergerak. Tinggal pencet, makanan datang. Teknologi membuat konsumsi semakin mudah, tapi aktivitas fisik berkurang," katanya.

Peningkatan ekonomi juga memicu pergeseran pola makan dari dominasi karbohidrat ke makanan tinggi lemak dan gula.

Kondisi ini mendorong terjadinya transisi gizi dan transisi epidemiologi, dari penyakit infeksi ke penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi.

Prof Ikeu mengingatkan bahaya konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL), termasuk minuman bersoda dan minuman manis kemasan.

"Kebutuhan gula sekitar 45-50 gram per hari atau setara 5 sendok makan. Banyak orang tidak sadar gula juga ada di minuman kemasan, kopi susu, bahkan makanan sehari-hari. Makanya penting membaca label gizi," ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menimbang berat badan secara rutin sebagai bagian dari prinsip gizi seimbang.

You can share this post!