Radar News - DENPASAR, NusaBali - Mahasiswa Program Studi Desain Interior Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Kadek Juan Ari Wijaya, berhasil masuk 10 besar finalis nasional dalam kompetisi desain interior yang dinilai dewan juri Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Pusat. Prestasi tersebut diraih melalui karya bertajuk Interior Redesign of Kulidan Kitchen & Space.
Juan mengangkat konsep redesain Kulidan Kitchen & Space di Gianyar dengan memadukan desain berkelanjutan dan identitas budaya lokal. Menurutnya, tempat tersebut selama ini lebih dikenal sebagai kafe, padahal awalnya dirancang sebagai ruang kreatif bagi seniman.
"Identitas sebagai art space belum terlihat kuat. Saya mencoba menghadirkan desain yang tetap nyaman sebagai kafe, tetapi juga mampu mengembalikan fungsinya sebagai ruang berkesenian," ujar Juan kepada NusaBali, Minggu (5/7).
Konsep yang diusung memanfaatkan material ramah lingkungan, seperti kayu, bambu laminasi, dan rotan. Desain juga memaksimalkan pencahayaan serta sirkulasi udara alami untuk menghemat energi. Selain itu, furnitur dibuat multifungsi sehingga ruang dapat digunakan sebagai kafe maupun tempat pameran seni.
Juan mengatakan seleksi diawali dengan penilaian konsep dan visualisasi desain. Setelah lolos, ia mempresentasikan karyanya di babak final di PIK 2, Banten, menggunakan bahasa Inggris di hadapan dewan juri HDII Pusat.
"Presentasi menjadi tantangan karena saya harus menjelaskan konsep budaya dan setiap keputusan desain dalam bahasa Inggris secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan," katanya.
Menurut Juan, para juri mengapresiasi keberhasilannya memadukan budaya lokal Gianyar dengan desain modern yang fungsional dan berkelanjutan. Bahkan, konsep tersebut dinilai berpeluang direalisasikan menjadi proyek nyata.
Dia menambahkan, keberhasilannya tidak lepas dari dukungan Program Studi Desain Interior ISI Bali yang memberikan pendampingan selama persiapan hingga memfasilitasi kebutuhan menuju babak final.
Juan berharap semakin banyak mahasiswa berani mengikuti kompetisi tingkat nasional untuk mengasah kemampuan dan menambah pengalaman.
"Saya mengajak teman-teman jangan takut berkompetisi. Manfaatkan teknologi, termasuk AI, sebagai alat bantu mencari referensi, tetapi hasilnya tetap harus dikaji bersama dosen agar sesuai dengan kaidah keilmuan," pungkasnya. 7cr83