Radar News - Penurunan muka air Danau Toba menjadi sinyal peringatan bagi sektor perikanan budidaya, terutama keramba jaring apung (KJA) yang menjadi sumber penghidupan bagi nelayan setempat.
KJA di Danau Toba telah berjumlah ribuan, bahkan pernah mencapai puluhan ribu. Penurunan muka air danau ini diprediksi akan terus berlanjut, dengan data satelit altimetri menunjukkan penurunan hingga sekitar 1,6 meter antara Juni 2025 dan Maret 2026. Jika musim kemarau berlanjut, muka air danau dapat turun hingga 2 meter, mengancam berbagai kegiatan di sekitar danau.
Kondisi ini tidak hanya memengaruhi sektor perikanan, tetapi juga sektor pertanian dan industri pembangkit listrik tenaga air yang dikelola PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM). BMKG memprediksi adanya potensi El Nino dan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) secara bersamaan pada 2026, yang dapat mempercepat penyusutan volume air danau dan meningkatkan risiko kematian massal ikan di KJA. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa penurunan muka air seringkali berkaitan dengan kejadian serupa, seperti yang terjadi pada tahun 2016 ketika ribuan ton ikan mati akibat surutnya muka air hingga 2 meter.
Meskipun penurunan muka air bukan penyebab langsung kematian ikan, ancaman muncul ketika kondisi tersebut bersamaan dengan cuaca ekstrem, terutama angin kencang. Dalam situasi ini, percampuran massa air dan pengadukan sedimen dapat terjadi, mengakibatkan penurunan kadar oksigen terlarut. Selain itu, limbah organik yang menumpuk di dasar danau dapat menghasilkan gas beracun ketika proses penguraian berlangsung tanpa oksigen. Gas tersebut dapat merusak sistem pernapasan ikan dan menurunkan kualitas air, berkontribusi pada kematian massal ikan di KJA.