PRIANGANTIMURNEWS – Free skating nomor women’s single skating di Olimpiade Musim Dingin 2026 Milano-Cortina menjadi salah satu sesi paling dinanti dalam cabang figure skating karena menentukan atlet yang akan berdiri di podium medali. Kompetisi ini digelar setelah babak short program pada 17 Februari yang menjadi pemanasan sebelum final pada 19 Februari 2026, di arena seluncur es utama Olimpiade. Perlombaan free skate sendiri menjadi momen puncak karena durasinya lebih panjang dan memberi kesempatan atlet menunjukkan kemampuan teknis serta artistik mereka secara penuh.
Dalam short program, Ami Nakai, atlet muda usia 17 tahun dari Jepang, mengejutkan banyak pihak dengan memimpin klasemen berkat performa kuatnya yang mencakup triple Axel bersih yang jarang terlihat di level Olimpiade. Skor 78.71 yang ia raih memberi peluang kuat menjadikannya favorit di free skate, mengungguli saingan berat dari Jepang sendiri yaitu Kaori Sakamoto, serta Alysa Liu dari Amerika Serikat yang berada di posisi ketiga menjelang free skate.
Kaori Sakamoto bukan nama baru di dunia figure skating. Sebagai skater veteran yang sudah mendapatkan gelar juara dunia beberapa kali, Sakamoto memiliki kombinasi teknik yang matang dan ekspresi artistik yang konsisten. Ekspektasi tinggi diarahkan padanya karena dia sudah beberapa kali menunjukkan skor musim terbaik, terutama dalam free skate tim event. Performanya di free skate menjadi sorotan karena kemungkinan menjadi penentu peraih medali emas jika ia berhasil mempertahankan kualitas programnya hingga akhir lomba.
Sisi lain dari kompetisi ini adalah perjuangan Alysa Liu, sang juara dunia yang juga berharap meraih medali Olimpiade. Liu tampil prima dalam short program dengan skor solid, memberikan harapan kuat bagi tim Amerika Serikat untuk kembali ke podium setelah jeda dua dekade. Meski begitu, posisi ketiga setelah short program membuatnya harus tampil sangat agresif dan hampir sempurna di free skate untuk mengejar ketinggalan poin dari Nakai dan Sakamoto.
Tidak semua pesaing menjalani jalan yang mulus menuju free skate. Contohnya, Amber Glenn dari Amerika Serikat mengalami kekecewaan besar di short program karena kesalahan pada salah satu elemen utama yang membuatnya berada di luar posisi peraih medali sementara. Namun, karena sistem Olimpiade masih memberi kesempatan di free skate, Glenn tetap lolos dan akan berusaha bangkit untuk memperbaiki posisi dan skor totalnya.
Kompetisi free skating sendiri menuntut atlet tidak hanya melakukan lompatan teknis tinggi seperti triple Axel atau kombinasi triple jumps lainnya, tetapi juga memadukan elemen skate dengan musik, ritme, dan transisi kreatif di seluruh program berdurasi sekitar empat menit. Kinerja di sesi ini umumnya mencerminkan kesiapan fisik dan mental skater, serta strategi koreografi yang matang untuk memaksimalkan nilai komponen penilaian.
Dengan jarak skor tipis antara pemimpin klasemen setelah short program, free skate diperkirakan menjadi arena pertarungan sengit antara favorit Jepang dan Amerika, serta kemungkinan kompetitor lain yang mampu tampil konsisten. Penonton di seluruh dunia menantikan apakah kombinasi teknik tinggi, kekuatan mental, dan interpretasi artistik akan menentukan siapa yang akhirnya membawa pulang medali Olimpiade 2026.