Fbhis.umsida.ac.id - Menjelang azan Magrib, suasana kota selalu berubah. Jalanan ramai, pusat keramaian dipenuhi anak muda, dan lini masa media sosial dipadati konten live ngabuburit.
Jika dulu ngabuburit identik dengan duduk santai di masjid, menyusuri taman kota, atau berburu takjil sederhana di pinggir jalan, kini tradisi ini mengalami transformasi yang cukup signifikan.
Ramadan bukan lagi hanya tentang menunggu waktu berbuka, tetapi juga tentang bagaimana ruang publik dimaknai ulang oleh generasi urban.
Perubahan ini bukan sekadar pergeseran tempat, melainkan cerminan dinamika budaya kota dan geliat ekonomi kreatif yang semakin kuat.
Dari Masjid ke Mal: Perubahan Lanskap Ruang Publik
Secara historis, ngabuburit identik dengan ruang-ruang religius dan komunal seperti masjid atau taman kota.
Aktivitasnya sederhana mulai dari tadarus, kajian ringan, atau sekadar berbincang sambil menunggu waktu berbuka.
Ruang publik berfungsi sebagai tempat mempererat silaturahmi sekaligus memperdalam spiritualitas.
Namun kini, mal, coffee shop, dan ruang-ruang komersial menjadi destinasi favorit ngabuburit.
Lihat Diary Selengkapnya