Dampak Internet Lambat Terhadap UMKM di Desa Sei Sembilang
Sumber Foto: Kompasiana.com
Ekonomi

Dampak Internet Lambat Terhadap UMKM di Desa Sei Sembilang

Radar News - Sebagai generasi milenial, dapat dibilang saya beruntung menjadi saksi perkembangan teknologi yang ada. Dulu, di tahun 90-an, nggak kebayang sebelumnya jika saya dapat berkomunikasi (bahkan tatap muka) dengan orang yang berada jauh di benua yang berbeda secara real time tanpa dikenakan biaya (ya, hanya butuh langganan internet saja). Beda dengan telepon interlokal yang dikenalan biaya di tiap waktu yang berjalan.

Saya menjadi saksi ketika awal mula warnet bermunculan di Palembang. Seingat saya itu awal 2000-an, untuk membuka satu situs saja butuh waktu lama. Ya maklum, kecepatannya masih lambat dan biaya penggunaan internetnya pun mahal. Tapi lihatlah sekarang, mengakses informasi dan memanfaatkan teknologi semudah menggerakkan jari!

Tapi, tinggal di kota besar seperti Palembang bikin pandangan saya bias. Saya kira, internet sudah menjangkau ke seluruh pelosok. Tapi, pengalaman saya mengunjungi Desa Sei Sembilang yang berada di Kabupaten Banyuasin tahun 2023 lalu membuka mata saya bahwa kemudahan akses internet ternyata belum sepenuhnya merata!

PERJALANAN PANJANG KE SEI SEMBILANG

Kedatangan saya dan rombongan ke Desa Sei Sembilang sebetulnya punya tujuan utama yakni ingin melihat langsung keberadaan burung Siberia yang melakukan perjalanan panjang dari Eropa menuju Australia untuk menghindari musim dingin. Setiap tahun, rata-rata 30.000 sd 40.000 burung air akan singgah di Taman Nasional Sembilang yang berada tak jauh dari Desa Sei Sembilang.

Untuk menjangkau desa ini, kami harus berkendara menggunakan speedboat dari Desa Sungsang selama 1,5 jam. Sebelumnya, dari Palembang butuh perjalanan darat menuju Desa Sungsang selama 1,5 jam pula. Jadi, total setidaknya 3 jam perjalanan. Sebetulnya masih terhitung dekat, ya. Tapi, ketika tiba di dermaga Desa Sei Sembilang sinyal ponsel saya melemah, ah penduduk Desa Sei Sembilang ini rupanya belum sepenuhnya merasakan kemudahan mengakses informasi dengan pemanfaatan jaringan internet.

Selama saya 2 hari 1 malam di sana, ponsel saya kebanyakan dianggurin. Hanya di jam-jam dan di lokasi tertentu sinyal muncul. Itu pun tidak begitu stabil. Saya sih sudah mengabari keluarga di rumah jika saya akan susah dihubungi selama berada di desa tersebut. Tapi, kebayang ya jika ada situasi genting atau kabar duka, informasinya pasti akan terlambat diterima. Ironisnya, kapal menuju dan dari Palembang tak 24 jam beroperasi pula mengingat harus berhadapan dengan cuaca yang kadang ekstrim.

Di sisi lain, kehidupan masyarakat di Desa Sei Sembilang juga turut terhambat terutama di aspek perekonomian mereka. Padahal, Desa Sei Sembilang ini dikenal dengan hasil laut dan perkebunannya yang seharusnya dapat dijual secara lebih luas jika teknologi dapat diakses dengan mudah.

IMBAS KE PELAKU USAHA

Warga di Desa Sungsang (yang masih di kabupaten yang sama dengan Desa Sei Sembilang) melalui PKK Desa Sungsang IV rupanya sudah berhasil memaksimalkan potensi desa mereka menjadi beberapa makanan dan minuman yang memiliki nilai jual tinggi.

Lihat Techlife Selengkapnya