Fenomena Kerja Fleksibel di Ruang Publik: Transformasi Budaya Pekerja Urban
Sumber Foto: Kompas.com
Sosial

Fenomena Kerja Fleksibel di Ruang Publik: Transformasi Budaya Pekerja Urban

Radar News - JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan pola kerja di kota-kota besar kian terasa dalam beberapa tahun terakhir.

Kini, pemandangan orang membuka laptop di kafe, menyelesaikan pekerjaan dari sudut minimarket, atau mengikuti rapat daring di ruang publik menjadi hal yang lumrah.

Fenomena ini tidak lagi identik dengan pekerja lepas semata, tetapi juga dilakukan oleh karyawan perusahaan yang memperoleh kebijakan kerja fleksibel dari kantornya.

Bekerja dari ruang publik pun semakin umum, terutama di kalangan pekerja urban yang mengandalkan perangkat digital dan koneksi internet.

Aktivitas profesional tak lagi terpusat di gedung-gedung perkantoran, melainkan tersebar di berbagai sudut kota, mengikuti mobilitas dan kebutuhan para pekerjanya.

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta Rakhmat Hidayat menilai, meningkatnya kebiasaan bekerja di ruang publik tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi digital dan fleksibilitas kerja.

Internet yang semakin mudah diakses, perangkat kerja yang ringkas, serta budaya kerja jarak jauh telah mengubah cara orang memaknai kantor.

Ia melihat bahwa perubahan ini berkaitan dengan transformasi dalam hubungan mobilitas sosial pekerja perkotaan.

Ruang kerja kini, kata dia, tidak lagi terpusat pada satu gedung atau alamat tertentu, melainkan bisa berpindah mengikuti kebutuhan individu.

“Fenomena kerja di minimarket atau kafe ini bukan semata-mata sebuah tren. Tapi lebih menunjukkan perubahan struktural dalam cara kita bekerja," kata dia saat dihubungi, Rabu (25/2/2026).

Menurut dia, fleksibilitas yang kini dinikmati pekerja tidak hadir begitu saja, melainkan lahir dari perubahan teknologi yang memungkinkan pekerjaan dilakukan dari mana saja.

Ia menjelaskan bahwa kemunculan sistem kerja jarak jauh dan pekerjaan lepas turut mendorong pergeseran ini.

“Di kafe, di restoran, misalnya. Jadi munculnya remote work dan freelancing itu telah menggeser paradigma tradisional kerja di kantor," kata dia.

“Jadi orang selama ini kan dianggap kerja di kantor. Nah tapi sekarang kerja bisa di kafe, di minimarket. Proses ini merupakan refleksi dari dinamika sosial yang dipengaruhi oleh globalisasi dan perubahan sosial dalam hubungan produksi setelah mobilitas sosial pekerja perkotaan," ujarnya.

Ruang Publik sebagai Ruang Ketiga

Bagi banyak pekerja urban, kafe atau minimarket bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang alternatif untuk bekerja.

Ada suasana yang berbeda dibandingkan rumah atau kantor.

Ruang publik, kata Rakhmat, menghadirkan produktivitas dan interaksi sosial dalam porsi yang lebih cair.

“Pekerja-pekerja kaum perkotaan itu merasa nyaman di ruang publik karena ruang publik tersebut menjadi semacam third space atau ruang ketiga yang menggabungkan aspek-aspek sosial dan produktif," ujar dia.

Menurut Rakhmat, suasana yang lebih santai justru bisa memunculkan rasa kebebasan dan kreativitas yang tidak selalu ditemukan di kantor konvensional.

Ia juga melihat bahwa ruang publik memberi kesempatan bagi pekerja untuk membangun identitas sosial di luar norma kantor yang cenderung kaku.

“Sambil menikmati fasilitas seperti wifi gratis atau sambil minum kopi, misalnya, camilan, dan sebagainya itu yang membuat mereka lebih nyaman," ujar dia.

Selain itu, Ia melihat bahwa ruang publik dan rumah kini menjadi alternatif yang sah dalam struktur kerja modern.

Menurut dia, perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran.

“Kantor konsep tradisional yang selama ini menjadi pusat aktivitas kerja mulai tergantikan oleh ruang publik dan rumah sebagai tempat kerja alternatif," kata dia.

Ia menambahkan bahwa fleksibilitas kini menjadi simbol individualisasi pekerjaan.

“Jadi fleksibilitas itu menjadi simbol dari individualisasi pekerjaan di mana pekerja bisa memilih di mana dan bagaimana mereka bekerja sesuai dengan kebutuhan pribadi," ujarnya.