Pagi Motley Inovasi Pewarna Alam untuk Karya Seni dan Interior Premium
Lifestyle

Pagi Motley Inovasi Pewarna Alam untuk Karya Seni dan Interior Premium

Radar News - DENPASAR, NusaBali.com – Industri kreatif berbasis pewarna alam, Pagi Motley, terus berinovasi mengembangkan produk dan jasa pewarnaan.

Berawal dari teknik celup tradisional berbahan daun, kini usaha tersebut merambah karya lukis eksklusif, produk interior premium, hingga konsep upcycle berbasis limbah tekstil.

Founder Pagi Motley, I Made Andika Putra, Rabu (25/2/2026), mengatakan inovasi lukis berbasis pewarna alam lahir dari proses eksperimen panjang untuk menghasilkan warna yang lebih pekat dan fleksibel. Awalnya, ia mencoba campuran tepung kanji sebagai pengental, namun hasilnya membuat kain menjadi kaku.

“Saya terus pelajari sampai akhirnya menemukan formula warna powder dengan konsentrasi dilipatgandakan. Dari 30 liter cairan, setelah disaring dan diendapkan, hanya menghasilkan sekitar 300 gram pasta warna,” ujar Andika.

Proses tersebut menghasilkan warna sangat pekat dan eksklusif, meski biaya produksinya lebih tinggi. Pasta dan powder warna itu kini tak hanya diaplikasikan pada tekstil, tetapi juga pada media kertas untuk kebutuhan interior.

Inovasi tersebut mendapat respons positif di pasar nasional. Dalam pameran kriya di Jakarta, salah satu karya lukis Pagi Motley dibeli Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sejumlah desainer dari Jakarta dan Singapura juga mulai melirik karya tersebut untuk pasar busana premium. Satu kain lukis handmade dibanderol Rp7,5 juta hingga Rp15 juta dengan waktu pengerjaan sekitar satu bulan.

Saat ini Pagi Motley memiliki tiga lini utama, yakni fashion, interior, dan aksesori. Produk fashion meliputi kain celup alami dan kain lukis; interior mencakup karpet, blanket, sarung bantal, wall hanging, hingga lukisan; sedangkan aksesori berupa selendang, bandana, dan tas. Produk yang paling diminati pengunjung studio adalah selendang, terutama oleh wisatawan yoga dan turis mancanegara.

Namun secara bisnis, sekitar 60–70 persen pendapatan justru berasal dari jasa pewarnaan. Mayoritas klien merupakan desainer luar negeri yang membawa kain sendiri, mulai linen, katun, hingga sutra, untuk dicelup menggunakan pewarna alami khas Pagi Motley. “Sutra paling bagus daya serap warnanya. Ada tamu yang celup hampir 800 meter sutra di sini,” ungkapnya.

Tak hanya memproduksi barang baru, Pagi Motley juga mengembangkan konsep upcycle. Sisa potongan kain diolah menjadi karpet, blanket, dan wall hanging. Bahkan, limbah tekstil dari mitra luar negeri diolah kembali menjadi produk interior bernilai tambah. Andika juga membuka peluang kerja sama dengan hotel untuk mengolah linen bekas seperti sprei menjadi tote bag, napkin, hingga coaster melalui proses re-dyeing.

Untuk bahan baku, Pagi Motley memanfaatkan daun ketapang, mahoni, mangga, serabut kelapa, indigo, hingga kayu secang. Empat tahun terakhir, Andika membeli langsung dari petani lokal. Dalam kondisi produksi ramai, kebutuhan daun ketapang bisa mencapai setengah ton per minggu. “Daun ketapang yang dianggap sampah pohon peneduh, di sini justru punya nilai ekonomi,” katanya.

Inovasi warna powder terbaru juga memungkinkan aplikasi pada banana paper untuk kebutuhan interior seperti lampu dekoratif dan panel pintu geser. Dengan pengembangan tersebut, Pagi Motley tak lagi sekadar produsen kain celup, melainkan ekosistem kreatif berbasis pewarna alam yang menjangkau fashion, interior, jasa pewarnaan, hingga pengolahan limbah tekstil. “Orang datang karena melihat warna alam bisa dibuat seunik ini,” ujar Andika. *may

You can share this post!