Pemkot Surabaya Tambah Alat Pantau Penurunan Tanah, Perbanyak Mangrove Cegah Intrusi Air Laut
Radar News - Pemkot Surabaya menambah jumlah alat pemantau penurunan muka tanah dan memperbanyak penanaman mangrove untuk mencegah intrusi air laut yang dapat menyebabkan banjir rob dan kerusakan bangunan. Surabaya mengalami penurunan tanah hingga 40 milimeter per tahun di beberapa kawasan, terutama Surabaya Utara.
Awal Kejadian
Penyebab utama penurunan muka tanah di Surabaya adalah pemanfaatan air tanah yang berlebihan. Ketika cadangan air tanah berkurang, struktur bawah tanah menjadi rapuh, berpotensi menyebabkan intrusi air laut ke dalam tanah yang sebelumnya terisi air tawar.
Perkembangan
Surabaya saat ini memiliki dua alat pemantau penurunan muka tanah dan air tanah, yang terletak di Kelurahan Perak dan Bubutan. Rencananya, satu alat tambahan akan dipasang di Wonorejo, sehingga total menjadi tiga titik pemantauan. Penambahan alat ini didukung oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Di sisi lain, kondisi wilayah Surabaya saat ini masih aman dari intrusi, berkat adanya buffer zone seluas 2.500 hektare di Surabaya Timur yang ditanami mangrove. Tanaman ini berfungsi untuk membendung air laut agar tidak meresap ke kawasan kota.
Kondisi Terakhir
Pemkot Surabaya juga membatasi pemanfaatan air tanah dengan memberlakukan moratorium pada pengajuan pengeboran baru. Perizinan pengeboran kini berada di bawah pengawasan Pemprov Jatim, dengan penekanan pada pemanfaatan air dari PDAM sebagai sumber utama.




