Proyek Bali Urban Subway Terhenti, Komitmen Atasi Kemacetan Dipertanyakan
Sumber Foto: NUSABALI.com
Sosial

Proyek Bali Urban Subway Terhenti, Komitmen Atasi Kemacetan Dipertanyakan

DENPASAR, NusaBali.com - Kemacetan parah di Bali, khususnya kawasan Sarbagita, sempat dijanjikan akan terurai lewat proyek ambisius Bali Urban Subway.

Namun hingga kini, proyek transportasi massal bawah tanah tersebut belum menunjukkan perkembangan berarti, bahkan setelah prosesi adat ngeruwak dan peletakan batu pertama dilakukan pada 4 September 2024 lalu.

Proyek Bali Urban Subway yang digarap PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ), BUMD milik Pemprov Bali, bersama PT Bumi Indah Permai (BIP) sebagai konsorsium utama, digadang-gadang menjadi solusi konkret mengatasi kemacetan kronis. Sayangnya, dua tahun berselang, belum tampak aktivitas fisik di lapangan maupun kepastian pendanaan dari investor asing yang sebelumnya disebut berasal dari Tiongkok dan Korea.

Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya di tengah publik dan legislatif. Apalagi, proyek bernilai fantastis sekitar USD 20 miliar atau setara Rp316 triliun ini sebelumnya telah melalui seremoni adat ngeruwak di kawasan TOD Central Parkir Kuta. Namun selepas seremoni tersebut, kelanjutan proyek justru senyap tanpa penjelasan resmi.

Situasi makin menimbulkan keraguan setelah muncul kabar perubahan konsep teknologi dari Light Rail Transit (LRT) menjadi Autonomous Rail Transit (ART). Perubahan arah ini dinilai sebagian pihak sebagai sinyal belum matangnya perencanaan, sekaligus memunculkan pertanyaan soal kesiapan investor dan kepastian model pembiayaan.

Ketua Komisi III DPRD Bali, Nyoman Suyasa, mengaku belum menerima laporan resmi terkait perubahan tersebut. “Informasi yang saya pegang masih LRT. Sekarang muncul kabar berubah ke ART dan pergantian investor. Di dewan belum ada laporan resmi,” ujarnya dengan nada sangsi.

Di sisi lain, kemacetan di Bali terus memburuk. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali 2024 mencatat sekitar 3,5 juta kendaraan beroperasi di wilayah Bali dengan panjang jalan sekitar 3.118 kilometer. Di kawasan wisata seperti Sunset Road hingga Canggu, kecepatan kendaraan pada jam sibuk bahkan turun hingga setara kecepatan bersepeda santai, berkisar 15–40 km per jam.

Padahal, Bali Urban Subway dirancang dalam empat fase, dengan dua fase awal menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan Kuta, Seminyak, Berawa hingga Cemagi serta Jimbaran–Nusa Dua. Pemerintah Provinsi Bali sebelumnya menargetkan fase pertama dan kedua rampung pada 2028 dan beroperasi penuh pada 2031.

Namun tanpa progres nyata di lapangan, publik kini mempertanyakan komitmen dan transparansi proyek tersebut. Masyarakat Bali dinilai tidak lagi membutuhkan kajian demi kajian, melainkan kepastian nyata kapan solusi kemacetan benar-benar diwujudkan.

Jika dalam waktu dekat tidak ada kejelasan langkah lanjutan dari PT SBDJ maupun PT BIP selaku konsorsium pelaksana, Bali Urban Subway dikhawatirkan hanya akan menjadi catatan ambisi besar yang gagal dieksekusi, sementara kemacetan terus melumpuhkan denyut pariwisata Pulau Dewata.