Tulungagung Targetkan Sejuta UMKM dengan 259.897 Pelaku Usaha, Dominasi Mamin dan Fashion
RADAR TULUNGAGUNG – Target menjadikan Tulungagung sebagai kota sejuta UMKM bukan sekadar slogan.
Data dinas koperasi dan usaha mikro (dinkop UM) hingga Februari 2026 mencatat jumlah pelaku usaha mikro di Tulungagung sudah menyentuh 259.897 unit.
Angka yang nyaris menyentuh seperempat juta itu menjadi fondasi kuat. Namun, pekerjaan rumahnya tak ringan, yaitu bagaimana mengubah kuantitas menjadi kekuatan ekonomi riil.
Kepala Dinkop UM Tulungagung, Slamet Sunarto, menegaskan bahwa orientasi ke depan bukan lagi sekadar penambahan jumlah pelaku usaha.
“Target kita bukan hanya banyak, tetapi naik kelas. Dari mikro ke kecil, lalu menengah. Itu yang sedang kita pacu,” tegasnya.
Dari total hampir 260 ribu UMKM tersebut, sektor makanan dan minuman (mamin) mendominasi 54,8 persen.
Disusul sektor fashion sekitar 26 persen dan kriya 13 persen, kemudian sisanya dari industri kreatif lainya.
Struktur ini tidak hanya menunjukkan kuatnya sektor konsumsi, tetapi juga mengindikasikan tantangan diversifikasi dan daya saing produk.
Jika tidak diperkuat dari sisi inovasi dan standarisasi, UMKM Tulungagung berisiko hanya berputar di pasar lokal tanpa mampu menembus pasar yang lebih luas.
Karena itu, dinkop UM menyiapkan beberapa fasilitas, salah satu yang terpenting adalah penguatan legalitas.
Legalitas menjadi titik tekan. Mulai dari pengurusan NIB hingga pendaftaran merek di Tulungagung terus difasilitasi.
Tujuannya jelas untuk melindungi produk sekaligus membuka akses pembiayaan dan pasar modern.
“Kalau legalitas kuat, kepercayaan pasar ikut naik,” ujar Slamet.
Gambaran konkret geliat UMKM terlihat setiap gelaran car free day (CFD) pada Minggu pagi. Sekitar 600 pedagang meramaikan kegiatan rutin tersebut. Dalam waktu tiga jam saja, perputaran uang mencapai Rp 200-250 juta.
Angka itu bukan sekadar statistik. Daftar tunggu pedagang yang ingin bergabung bahkan mencapai ratusan.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa ekonomi kerakyatan bergerak. Di sisi lain, pemerintah juga mulai memikirkan bagaimana geliat tersebut bisa berdampak lebih luas, termasuk nantinya bisa berpotensi menyumbang kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD).
Jika Tulungagung serius menuju kota sejuta UMKM, maka fase berikutnya adalah standarisasi. Salah satu gagasan strategis yang tengah didorong ialah pembangunan rumah kurasi.
Dengan basis hampir 260 ribu pelaku usaha, Tulungagung memiliki modal awal yang kuat. Namun menuju kota sejuta UMKM berarti memastikan usaha-usaha tersebut bertahan, berkembang, dan naik kelas.
“Sejuta UMKM bukan sekadar jumlah. Tapi sejuta usaha yang kuat, legal, dan mampu bersaing,” pungkas Slamet. (sri / c1/ rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri




