Amartha Prosper Luncurkan Investasi untuk UMKM dengan Imbal Hasil Hingga 14%
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat inklusi keuangan nasional mencapai 80,5% pada 2025. Capaian ini turut ditopang layanan keuangan digital, termasuk fintech, yang semakin mampu menjangkau UMKM di akar rumput.
Perkembangan tersebut membuka ruang bagi fintech menghadirkan instrumen investasi yang tidak hanya berorientasi pada imbal hasil, tetapi juga memberi dampak bagi perekonomian — terutama melalui penguatan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
Sejalan dengan tren itu, Amartha resmi meluncurkan Amartha Prosper, solusi impact investment yang dirancang untuk menghubungkan modal publik dengan pertumbuhan UMKM di Indonesia. Terintegrasi dalam aplikasi Amartha, Prosper memungkinkan investor memperoleh imbal hasil kompetitif sekaligus berkontribusi langsung pada penguatan ekonomi komunitas, khususnya perempuan pengusaha ultra mikro di wilayah perdesaan.
“Peluncuran Amartha Prosper merupakan langkah strategis jangka panjang untuk memperluas akses investasi berbasis dampak yang terukur dan bertanggung jawab. Amartha Prosper menjadi alternatif investasi pendapatan tetap yang kredibel dan relevan dengan kebutuhan investor saat ini, sekaligus memperkuat sektor UMKM produktif di Indonesia,” kata Julie Fauzie, Chief Funding Officer Amartha, Jumat (6/2/2026).
Melalui skema Amartha Prosper Grassroots Growth Series (GGS), investor dapat menyalurkan dana ke UMKM mitra Amartha dengan sebaran geografis dan sektor usaha yang luas dan beragam. Pendekatan ini ditujukan untuk memberi eksposur portofolio yang lebih terdiversifikasi, dengan risiko yang diklaim lebih terukur.
Produk ini menawarkan potensi imbal hasil hingga 14%, yang dibagi dalam empat profil: Balanced-Flex (imbal hasil bulanan fleksibel), Balanced (lebih resilien terhadap kondisi ekonomi), Progressive (potensi pertumbuhan lebih tinggi), serta Dynamic (potensi imbal hasil tertinggi dengan sensitivitas risiko lebih besar). Seluruh produk dapat diakses melalui aplikasi digital, sehingga investor dapat “tumbuh bersama” UMKM perdesaan.
Selama 16 tahun, Amartha menyatakan telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun pendanaan kepada lebih dari 3,7 juta perempuan pelaku UMKM di lebih dari 50 ribu desa di Indonesia. Basis pendana ritel (lender) yang terdaftar disebut telah melampaui 320 ribu.
Dukungan Amartha juga diklaim mendorong dampak nyata, termasuk terciptanya lebih dari 110.000 lapangan kerja sepanjang 2024 oleh mitra UMKM Amartha, disertai peningkatan pendapatan dan kapasitas kerja. Atas praktik bisnis dan tata kelola yang dinilai baik, Amartha menyebut mendapat kepercayaan dari puluhan institusi nasional maupun global.
Tren investasi berdampak kian relevan
Tren investasi berbasis tujuan dinilai kian relevan bagi investor, terutama dalam membangun portofolio jangka menengah. Mengacu pada laporan Global Impact Investing Network (GIIN) 2025, sekitar 31% investor berencana meningkatkan investasi berdampak di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam lima tahun ke depan.
“Saat ini momentum investasi berbasis dampak dan ESG semakin relevan. Selain imbal hasil, investor semakin mempertimbangkan transparansi, manajemen risiko yang baik, serta dampak nyata yang terukur. Produk investasi seperti Amartha Prosper berpotensi menjadi bagian dari strategi diversifikasi portofolio pendapatan tetap yang seimbang antara return dan purpose,” kata Melvin Mumpuni, Certified Financial Planner.
Ia menekankan bahwa impact investing tidak semata mengejar return finansial, tetapi juga memberi makna pada setiap rupiah yang diinvestasikan—dengan membantu pelaku usaha kecil naik kelas, mendorong pertumbuhan inklusif, serta mengupayakan return yang stabil dan berkelanjutan.
Dampak pendanaan tersebut turut dirasakan mitra UMKM, khususnya perempuan pengusaha ultra mikro di desa yang selama ini menghadapi keterbatasan akses modal. Salah satunya Ibu Kamila, pemilik usaha nasi kuning dan soto banjar asal Kalimantan Selatan.
“Dulu saya sering menolak pesanan karena modal bahan baku terbatas. Setelah menerima pendanaan dari Amartha Prosper, stok bahan jadi lebih siap, produksi lancar, dan pesanan yang masuk bisa terpenuhi. Dari usaha ini juga, saya bisa menambah pendapatan keluarga dan membantu suami,” ujar Ibu Kamila, Mitra UMKM Amartha sejak 2023.
Sebagai bagian dari upaya memperluas dampak di tingkat komunitas, Amartha juga menghadirkan program “Cerita Rasa by Amartha Prosper”, kompetisi memasak yang melibatkan lebih dari 1.000 ibu mitra Amartha di Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Bali–Nusa Tenggara, dan Jawa. Program ini diklaim menjadi bukti bahwa pendanaan yang tepat dan berkelanjutan dapat mendorong pertumbuhan usaha sekaligus menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga dan sistem pangan daerah.
“Ke depan, kami ingin Amartha Prosper menjadi jembatan yang mempertemukan investor dengan pertumbuhan ekonomi komunitas secara berkelanjutan. Dengan tata kelola yang kuat dan fokus pada UMKM perdesaan, kami optimistis Prosper dapat berkontribusi lebih besar terhadap ekonomi nasional dan daerah,” tutup Julie. (*)




