Analisis 100 Hari Kerja Prabowo-Gibran: Potensi Reshuffle Kabinet dan Menteri Populer
Sumber Foto: Liputan6.com
Sinyal Peristiwa

Analisis 100 Hari Kerja Prabowo-Gibran: Potensi Reshuffle Kabinet dan Menteri Populer

Isu mengenai kemungkinan reshuffle Kabinet Merah Putih menjadi sorotan di publik setelah Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan sinyal perombakan kabinet pasca 100 hari kerja pemerintahan. Pelantikan Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berlangsung di Jakarta pada 20 Oktober 2024, sehingga 100 hari kerja mereka akan berakhir pada 28 Januari 2025.

Dalam sebuah pidato yang disampaikan pada peringatan Hari Lahir ke-102 Nahdlatul Ulama (NU) di Istora Senayan, Jakarta, pada 5 Februari 2025, Prabowo memberikan ultimatum kepada jajaran Kabinet Merah Putih. Ia menegaskan bahwa ia tidak akan ragu untuk menyingkirkan menteri atau pejabat yang dianggap tidak serius dalam menjalankan tugas untuk kepentingan masyarakat. "Yang tidak mau bekerja benar-benar untuk rakyat, ya saya akan singkirkan," tegas Prabowo.

Presiden Prabowo juga mengingatkan bahwa masyarakat memiliki harapan untuk pemerintahan yang bersih, dan ia mengharapkan semua pejabat negara di kabinetnya dapat bekerja dengan sungguh-sungguh untuk rakyat. "Saya sudah beri istilahnya peringatan berkali-kali. Sekarang siapa yang bandel, siapa yang ndablek, siapa yang tidak mau ikut dengan aliran besar ini, dengan tuntutan rakyat pemerintahan yang bersih. Siapa yang tidak patuh saya akan tindak," tambahnya.

Ultimatum yang disampaikan oleh Prabowo ini mendapatkan perhatian dari kalangan pengamat dan politikus, yang menilai hal tersebut sebagai indikasi adanya reshuffle kabinet. Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Harian DPP Partai Gerindra, menyatakan bahwa pernyataan Prabowo merupakan bentuk keterbukaan dan peringatan kepada para menterinya untuk melakukan evaluasi internal di kementerian masing-masing.

Meski demikian, Dasco menekankan bahwa keputusan untuk merombak kabinet merupakan hak prerogatif Presiden Prabowo. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, yang menegaskan bahwa hanya Presiden yang mengetahui waktu dan siapa saja yang akan terlibat dalam reshuffle tersebut.

Seiring dengan diskusi mengenai reshuffle, perhatian publik juga tertuju pada menteri-menteri mana saja yang dianggap paling populer dalam Kabinet Merah Putih, berdasarkan hasil survei dari tiga lembaga survei. Untuk informasi lebih lanjut mengenai ultimatum Prabowo terhadap jajaran pemerintahan dan daftar menteri terpopuler, simak infografis yang menyajikan data tersebut.