Aplikasi MQR Ditingkatkan untuk Memantau Patroli Lalu Lintas Secara Real Time
Pemanfaatan teknologi dalam pengawasan kinerja anggota kepolisian semakin ditingkatkan. Dalam rangka evaluasi dan pengembangan aplikasi Mahameru Quick Response (MQR), peserta didik Sespimmen Polri Dikreg 66 menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat IKATAMA Ditlantas Polda Jawa Timur pada Kamis, 12 Februari.
FGD yang dipimpin oleh Achmad Rakhmatullah Dwi Nugroho ini dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, PT Jasa Marga Wilayah Jawa Timur, serta akademisi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tujuan utama dari forum ini adalah untuk menghimpun masukan dan evaluasi dari berbagai pihak yang memiliki peran dalam pengelolaan lalu lintas dan pengembangan sistem berbasis teknologi informasi.
Dwi Nugroho menjelaskan bahwa aplikasi MQR telah digunakan oleh anggota di lapangan sebagai sarana pengawasan kinerja. "FGD kami gelar untuk evaluasi dan melihat apa saja yang perlu dioptimalkan," ujarnya.
Aplikasi MQR dirancang dengan sistem dashboard yang terhubung dengan pusat kendali. Sistem ini terintegrasi dengan Google serta Regional Traffic Management Center (RTMC) Polda Jawa Timur, dan terhubung dengan ribuan CCTV yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur. Dengan sistem ini, aktivitas patroli dapat dipantau secara real time, termasuk posisi personel, informasi titik rawan kecelakaan, lokasi kemacetan, serta area yang dianggap sebagai trouble spot.
Selama diskusi, para pemangku kepentingan memberikan sejumlah catatan penting, seperti perlunya penguatan integrasi data antarinstansi, pengembangan fitur aplikasi, dan mekanisme koordinasi untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat di lapangan. Saat ini, aplikasi MQR lebih berfokus pada pemantauan kehadiran dan pergerakan patroli di titik rawan.
Ke depan, Dwi Nugroho menyampaikan bahwa aplikasi akan dilengkapi dengan fitur pencatatan tindakan preventif yang dilakukan oleh anggota, seperti teguran kepada pelanggar. Aktivitas tersebut diharapkan dapat langsung tercatat dalam aplikasi, sehingga pengawasan tidak hanya terkait keberadaan anggota, tetapi juga tindakan yang dilakukan di lapangan.
Pengembangan fitur tersebut ditargetkan selesai dalam waktu tiga bulan ke depan. Dengan sistem yang lebih komprehensif, diharapkan pola patroli menjadi lebih terarah dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. "Harapannya, patroli bisa lebih tepat sasaran dan efektif. Semua aktivitas anggota terekam dan terdokumentasi secara sistematis," tutup Dwi Nugroho.




