Balai Sahabat: Ruang Sosial yang Menjaga Warisan Sejarah Surabaya
Kegiatan walking tour dalam mata kuliah Konservasi Interior Bersejarah, Program Studi Desain Interior, FAD UPN "Veteran" Jawa Timur, mendorong mahasiswa untuk membaca kembali identitas ruang kota Surabaya melalui bangunan bersejarah yang masih hidup dan digunakan masyarakat. Salah satu lokasi yang menjadi objek penelitian lapangan adalah Balai Sahabat (dulunya Deutscher Verein), sebuah gedung yang kini difungsikan sebagai pusat kegiatan komunitas. Lokasinya berada tidak jauh dari kawasan Siola dan menjadi simpul penting dalam jaringan ruang sosial di pusat kota.
Gedung ini dibangun tahun 1928. Deutscher Verein sendiri berasal dari dua kata, yaitu Deutscher dan Verein, yang memiliki arti orang-orang Jerman (Deutscher) dan perkumpulan atau klub (Verein). Gedung ini adalah sebagai pusat kehidupan diaspora Jerman di Surabaya - tempat seni, budaya, dan propaganda. Gedung bergaya Indische Empire Style ini dulu dilengkapi dengan balkon berbungakan pergola dan satu-satunya yang memiliki panggung berputar di Hindia Belanda, sehingga membuat gedung ini menjadi simbol kejayaan komunitas Jerman sejak awal abad ke-20. Setelah penjajahan Jepang tahun 1946, gedung ini dibeli oleh Phoe Sin Khoen. Kemudian gedung ini dihibahkan kepada perkumpulan Lien Huan She (yang artinya Balai Sahabat). Gedung ini pun sudah terdaftar sebagai bangunan cagar budaya pada SK Walikota No. 188.45/300/436.1.2/2009.
Observasi mahasiswa dan dosen menunjukkan bahwa meskipun fungsi bangunan telah bertransformasi, karakter interior asli Balai Sahabat masih terasa kuat. Beberapa elemen yang teridentifikasi mencakup:
struktur dinding bata tebal khas bangunan kolonial,
bukaan jendela besar dengan bentuk arch,
rangka atap kayu bermotif yang diekspos pada area aula,
lantai tegel bermotif yang masih terjaga di sebagian ruang.
Temuan menarik lainnya adalah adaptasi ruang tanpa merusak struktur asli. Ruang tengah yang dulunya area panggung teater kini dipakai sebagai area pertemuan komunitas; penggunaan furnitur modular memungkinkan perubahan layout tanpa memodifikasi elemen historis. Selain itu pada bagian kanan gedung juga difungsikan sebagai caf atau restoran dengan tetap mempertahankan fasad asli namun disesuaikan dengan desain masa kini. Pendekatan ini menunjukkan bahwa fungsi kontemporer dapat berjalan berdampingan dengan warisan interior.
Dampak bagi Masyarakat
Balai Sahabat bukan sekadar bangunan peninggalan era kolonial, tetapi ruang sosial aktif. Melalui kegiatan komunitas --- pelatihan, diskusi publik, hingga pameran kreatif --- masyarakat berinteraksi langsung dengan ruang bersejarah. Partisipasi tersebut memberi dampak positif berupa:
meningkatnya kesadaran mengenai nilai pelestarian bangunan lama,
perasaan memiliki ruang sejarah sebagai bagian dari identitas kota,
potensi ekonomi melalui kegiatan kreatif berbasis komunitas.
Artinya, keberlanjutan bangunan tidak hanya bergantung pada pemerintah atau pemilik, tetapi juga pada keterlibatan sosial kolektif. Sedangkan dari kacamata akademik, Balai Sahabat memberikan pembelajaran penting bagi pengembangan desain interior masa kini yaitu:
Konservasi adaptif dapat menjaga keaslian sembari membuka peluang fungsi baru.
Material asli (kayu, tegel, bata) memiliki nilai termal dan estetika yang semakin relevan dalam arsitektur tropis modern.
Transformasi ruang dapat dilakukan tanpa intervensi destruktif melalui desain furnitur dan pengaturan layout.




