Demonstrasi di Jakarta Dihiasi Keluhan Sinyal Hilang dan SMS Provokatif
Ratusan masyarakat yang tergabung dalam Poros Jakarta melaksanakan aksi unjuk rasa di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta Pusat pada Jumat, 23 Agustus 2024. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap RUU Pilkada yang sedang dibahas. Namun, demonstrasi tersebut tidak hanya diwarnai dengan tuntutan politik, tetapi juga oleh keluhan dari para peserta mengenai hilangnya sinyal provider dan munculnya pesan singkat (SMS) provokatif.
Salah satu demonstran, Elisa, yang aktif di media sosial dengan akun @elisa_jkt, mengungkapkan bahwa sinyal provider yang digunakannya hilang saat aksi dimulai. Hal ini mengakibatkan ia tidak dapat mengakses internet atau media sosial selama berada di lokasi. "Sinyal provider merah hilang di KPU. Langsung hilang saat mulai aksi. Ini saya bisa ngetwit karena saya sudah di Cikini, maka ada sinyal," tulis Elisa dalam unggahan di media sosialnya.
Selain masalah sinyal, Elisa juga melaporkan bahwa ia dan beberapa rekannya menerima pesan SMS provokatif yang dinilai mencurigakan. Pesan tersebut berasal dari nomor tidak dikenal dan mengandung ajakan yang berpotensi memicu kerusuhan. Salah satu isi SMS yang diterima Elisa berbunyi: "Depan belakang pagar DPR RI sudah kita robohkan, mari kita duduki gedung DPR RI. Hancurkan, bakar, robohkan gedung DPR RI. Gulingkan Oligarki Jokowi."
Keluhan serupa juga disampaikan oleh beberapa demonstran lainnya. Seorang pengguna media sosial dengan akun @fxdhilrxm membagikan SMS yang ia terima, yang berisi ajakan untuk melakukan aksi kekerasan terhadap gedung DPR RI. Pesan tersebut berbunyi: "INDONESIA DALAM DARURAT. MARI KITA AKSI BAKAR GEDUNG DPR RI HANCURKAN, BAKAR, ROBOHKAN GEDUNG DPR RI. GULINGKAN OLIGARKI JOKOWI. TURUNKAN JOKOWI."
Pengguna lain, @daevus_, juga melaporkan menerima pesan yang menyerukan serangan terhadap aparat kepolisian. Pesan tersebut berbunyi: "Polisi jahat mari kita incar polisi dan kita ledakan." Unggahan-unggahan terkait SMS provokatif ini segera menjadi sorotan di media sosial, memicu beragam spekulasi di kalangan warganet mengenai pihak yang mungkin bertanggung jawab.
Beberapa warganet mencurigai bahwa SMS tersebut berasal dari pihak yang memiliki akses khusus terhadap sistem telekomunikasi. "Sinyal hilang di KPU pas aksi mulai? Sangat mencurigakan. Dan SMS provokatif itu jelas-jelas usaha dari pihak tertentu untuk memancing kerusuhan. Waspada, kita tahu siapa yang mampu nge-blast SMS begitu," cuit akun @IamRoger****.
Sementara itu, pengguna lainnya, @_cheas***, menyoroti bahwa biasanya SMS blast dilakukan oleh penyedia layanan telekomunikasi besar atau instansi pemerintah. Ada juga yang mencurigai keterlibatan intelijen dalam kejadian ini, seperti yang diungkapkan oleh akun @dimm_***.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak penyedia layanan telekomunikasi atau otoritas terkait mengenai hilangnya sinyal dan munculnya SMS provokatif yang diterima oleh para demonstran.




