Evolusi Halyu: Dari K-Pop ke Sastra dan Pariwisata
Penulis: Xu Aiying
Halyu dilaporkan semakin terdiversifikasi, dari yang semula berpusat pada musik kini meluas ke bidang sastra, film, hingga pariwisata.
Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata bersama Korea Culture Information Service Agency pada tanggal 25 Februari 2026 merilis laporan bertajuk Analisis Tren Global Halyu 2025 Berdasarkan Media Asing dan Data Media Sosial.
Laporan ini mengumpulkan dan menganalisis sekitar 1,5 juta artikel media asing dari 30 negara serta data media sosial selama periode Oktober 2024 hingga September 2025.
Sepanjang tahun 2025, pemberitaan media asing terkait halyu tercatat paling banyak berasal dari Asia (44%), disusul Eropa (20,8%) dan Amerika Utara (16,9%).
Di sebagian besar kawasan, termasuk Asia, Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Latin, K-pop menempati porsi tertinggi. Namun, di tengah arus umum yang dipimpin K-pop, Afrika menunjukkan kecenderungan berbeda dengan sorotan yang menonjol terhadap K-sastra. Sementara itu, di Oseania, K-film mendapat perhatian yang cukup signifikan.
Berdasarkan negara, pemberitaan terbanyak berasal dari Amerika Serikat, India, Argentina, dan Vietnam. Di Jepang, K-sastra mencatat porsi yang relatif tinggi, sementara di Vietnam K-drama lebih dominan, dan di Brasil K-film mendapat perhatian yang relatif besar.
Berdasarkan bidang, popularitas global K-food tampak menonjol. Kata kunci terkait hidangan Korea yang populer dan tradisional, termasuk kimci, soju, ramyeon, dan bibimbap tetap dominan, sementara chef dan Squid Game muncul sebagai kata kunci baru yang terkait.
Melalui platform layanan video over-the-top (OTT), kuliner Korea yang terekspos secara alami dalam program varietas memasak Culinary Class Wars dan drama Squid Game kembali mendapat sorotan di tingkat global.
Sebagai konten individual, film animasi Netflix KPop Demon Hunters yang melampaui 300 juta penayangan dianalisis sebagai karya dengan dampak terbesar.
Sementara itu, drama Netflix When Life Gives You Tangerines yang berlatar di Jeju juga membangun resonansi internasional melalui strategi pelokalan judul yang disesuaikan dengan emosi masing-masing negara serta narasi universal tentang kasih sayang keluarga.
Setelah penulis Han Kang meraih Hadiah Nobel Sastra, porsi pemberitaan mengenai K-sastra meningkat lebih dari 30 poin persentase dibandingkan kuartal sebelumnya.
Media asing menyoroti simbolisme sebagai perempuan Asia pertama yang meraih penghargaan tersebut serta menilai bahwa sastra Korea telah membuka cakrawala baru dalam sejarah sastra dunia.




