Peristiwa megatsunami yang terjadi di Dickson Fjord, Greenland Timur, baru-baru ini menarik perhatian ilmuwan dan masyarakat luas. Getaran yang berlangsung selama sembilan hari ini bukanlah hasil dari gempa tektonik biasa, melainkan berasal dari sinyal seismik yang tidak biasa, yang disebut Very Long Period (VLP).
Dr. Kristian Svennevig, peneliti utama dari Survei Geologi Denmark dan Greenland (GEUS), menjelaskan bahwa sinyal ini memiliki karakteristik monokromatik, dengan nada yang konstan dan berulang setiap 90 detik. Pengamatan ini merupakan yang pertama dalam sejarah pencatatan seismologi, di mana getaran global terdeteksi dari satu peristiwa tunggal.
Penyebab utama megatsunami ini terletak pada runtuhnya puncak gunung setinggi 1,2 kilometer di kawasan tersebut. Proses ini dipicu oleh pencairan gletser akibat pemanasan global, yang mengakibatkan pengurangan penyangga alami bagi batuan di atasnya.
Gelombang yang terperangkap dalam fjord memiliki dampak signifikan terhadap durasi getaran. Dickson Fjord, dengan bentuk sempit dan dinding tebing curam, membuat energi gelombang tidak bisa langsung lepas ke laut terbuka. Sebagai hasilnya, air yang terperangkap memantul bolak-balik di antara dinding fjord, menciptakan getaran yang terdeteksi di seluruh dunia setiap 90 detik.
Wilayah fjord di Greenland kini menjadi tujuan populer bagi kapal pesiar. Jika megatsunami terjadi saat ada kapal melintas, dampaknya bisa berakibat fatal. Selain itu, dengan mencatat suhu terpanas di kutub antara tahun 2024 hingga 2026, para ahli memperingatkan bahwa risiko runtuhnya gunung-gunung lain semakin meningkat.
Peristiwa ini menyoroti betapa pentingnya pemahaman akan perubahan iklim dan dampaknya terhadap lingkungan serta keselamatan manusia di kawasan Arktik.