Fenomena Megatsunami di Greenland: Getaran Selama 9 Hari dan Ancaman Lingkungan
Sumber Foto: netralnews.com
Sinyal Peristiwa

Fenomena Megatsunami di Greenland: Getaran Selama 9 Hari dan Ancaman Lingkungan

Peristiwa megatsunami yang terjadi di Dickson Fjord, Greenland Timur, baru-baru ini menarik perhatian ilmuwan dan masyarakat luas. Getaran yang berlangsung selama sembilan hari ini bukanlah hasil dari gempa tektonik biasa, melainkan berasal dari sinyal seismik yang tidak biasa, yang disebut Very Long Period (VLP).

Dr. Kristian Svennevig, peneliti utama dari Survei Geologi Denmark dan Greenland (GEUS), menjelaskan bahwa sinyal ini memiliki karakteristik monokromatik, dengan nada yang konstan dan berulang setiap 90 detik. Pengamatan ini merupakan yang pertama dalam sejarah pencatatan seismologi, di mana getaran global terdeteksi dari satu peristiwa tunggal.

Penyebab Megatsunami

Penyebab utama megatsunami ini terletak pada runtuhnya puncak gunung setinggi 1,2 kilometer di kawasan tersebut. Proses ini dipicu oleh pencairan gletser akibat pemanasan global, yang mengakibatkan pengurangan penyangga alami bagi batuan di atasnya.

  • Pencairan Gletser: Pemanasan global berkontribusi pada penipisan gletser di kaki gunung.
  • Longsoran Masif: Sekitar 25 juta meter kubik material, setara dengan volume 10.000 kolam renang Olimpiade, runtuh ke dalam fjord yang sempit.
  • Dampak Awal: Hantaman ini memicu percikan air yang melambung setinggi 200 meter.

Pemahaman Fenomena Seiche

Gelombang yang terperangkap dalam fjord memiliki dampak signifikan terhadap durasi getaran. Dickson Fjord, dengan bentuk sempit dan dinding tebing curam, membuat energi gelombang tidak bisa langsung lepas ke laut terbuka. Sebagai hasilnya, air yang terperangkap memantul bolak-balik di antara dinding fjord, menciptakan getaran yang terdeteksi di seluruh dunia setiap 90 detik.

Ancaman terhadap Keamanan dan Lingkungan

Wilayah fjord di Greenland kini menjadi tujuan populer bagi kapal pesiar. Jika megatsunami terjadi saat ada kapal melintas, dampaknya bisa berakibat fatal. Selain itu, dengan mencatat suhu terpanas di kutub antara tahun 2024 hingga 2026, para ahli memperingatkan bahwa risiko runtuhnya gunung-gunung lain semakin meningkat.

Peristiwa ini menyoroti betapa pentingnya pemahaman akan perubahan iklim dan dampaknya terhadap lingkungan serta keselamatan manusia di kawasan Arktik.