Generasi Muda Beralih ke Pinggiran: Tren Urban Flight di Kota Besar
Sumber Foto: Kompasiana.com
Sosial

Generasi Muda Beralih ke Pinggiran: Tren Urban Flight di Kota Besar

Di kota-kota besar, apartemen-apartemen mungil mulai kehilangan penghuninya. Bukan karena krisis, bukan karena bencana. Tapi karena sebuah keputusan sunyi yang diambil pelan-pelan oleh generasi muda, pindah.

Dulu, tinggal di pusat kota adalah simbol keberhasilan. Dekat kantor. Dekat kafe. Dekat kehidupan. Kota menawarkan semuanya, gedung tinggi berlapis kaca, coworking space 24 jam, rooftop bar dengan lampu temaram dan musik elektronik yang tak pernah benar-benar berhenti.

Tapi beberapa tahun terakhir, ada tren yang bergerak diam-diam. Anak-anak muda usia 25 sampai 35 mulai mengemas barang, menutup kontrak sewa, dan memindahkan hidupnya ke pinggiran kota, ke klaster perumahan dengan pagar rendah, ke rumah dua lantai dengan sedikit halaman, ke udara yang tak selalu beraroma asap knalpot.

Raka dan Livia adalah bagian dari gelombang itu. Mereka bekerja remote, Raka sebagai UI/UX designer, Livia sebagai content strategist. Kantor mereka kini hanya sebatas layar dan koneksi internet stabil. Tidak ada lagi kewajiban hadir fisik lima hari seminggu.

“Ngapain bayar mahal cuma buat dekat kantor, kalau kantor ada di laptop?” kata Raka suatu malam, saat mereka menghitung ulang pengeluaran bulanan.

Di kota, biaya hidup merangkak naik. Sewa apartemen studio setara cicilan rumah di pinggiran. Harga kopi bisa setara makan siang sederhana. Parkir, tol, pajak, semuanya terasa seperti potongan kecil yang lama-lama jadi besar.

Urban flight generasi muda bukan sekadar soal uang. Ia juga soal lelah.

Lelah dengan kemacetan yang memakan dua jam sehari. Lelah dengan kebisingan yang bahkan menembus jendela kedap suara. Lelah dengan ritme kota yang menuntut selalu produktif, selalu hadir, selalu update.

Di pinggiran, ritmenya berbeda. Pagi lebih sunyi. Malam lebih gelap. Tidak ada sirene bersahutan tiap jam. Tidak ada suara motor balap di tengah malam. Yang ada hanya suara jangkrik dan angin yang lewat di sela pepohonan.

Namun keputusan pindah bukan tanpa konsekuensi.

Pusat kota tetap menjadi magnet. Di sana ada jaringan, peluang, spontanitas. Di sana kamu bisa tiba-tiba bertemu klien potensial di acara komunitas. Bisa nongkrong tanpa rencana dan pulang dengan ide baru.