Harga Emas Berpotensi Menguat Seiring Kebijakan Suku Bunga yang Longgar
Sumber Foto: TIMES Surabaya
Sinyal Peristiwa

Harga Emas Berpotensi Menguat Seiring Kebijakan Suku Bunga yang Longgar

JAKARTA – Prospek harga emas diprediksi akan mengalami penguatan tajam seiring dengan kemungkinan bank sentral baik di dalam maupun luar negeri melanjutkan kebijakan penurunan suku bunga. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melalui riset HRTA Gold Insights memperkirakan momentum penguatan logam mulia ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun.

Faktor Pendorong Lonjakan Harga Emas

Direktur Investor Relations HRTA, Thendra Crisnanda, menjelaskan bahwa beberapa faktor global dan domestik menjadi katalis bagi lonjakan harga emas. "Kebijakan moneter yang lebih longgar, pelemahan nilai tukar, serta tingginya pembelian emas oleh bank sentral menjadi pendorong utama tren bullish. Di dalam negeri, pelemahan rupiah justru memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai," ujar Thendra di Jakarta.

Menanti Rapat The Federal Reserve dan Bank Indonesia

Investor saat ini tengah menantikan hasil rapat The Federal Reserve yang dijadwalkan pada akhir Oktober atau awal November. Jika data ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan perlambatan yang lebih dalam, peluang untuk pemangkasan suku bunga lanjutan akan semakin terbuka. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga akan menggelar rapat pertengahan Oktober dengan fokus menjaga stabilitas rupiah sambil mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Rekor Harga Emas Dunia

Hingga September 2025, harga emas dunia telah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa dengan nilai lebih dari US$3.800 per troy ounce. Rata-rata harga emas pada bulan September tercatat sekitar US$3.663 per troy ounce, setara dengan Rp1,94 juta per gram. Secara tahunan, harga emas dalam dolar AS melonjak 39,31% (yoy), sementara dalam rupiah meningkat hingga 51,69% yoy akibat pelemahan kurs. Secara bulanan, harga emas lokal pada bulan September juga naik 10,42% (mom).

Pendorong Kenaikan Harga

Kenaikan harga emas ini didorong oleh kebijakan The Fed yang cenderung dovish, terlihat dari pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin, pelemahan dolar di berbagai negara, serta meningkatnya ketegangan geopolitik dan perang dagang global. Selain itu, peningkatan pembelian emas oleh bank sentral dunia yang konsisten menambah cadangan lebih dari 1.000 ton per tahun sejak 2022 juga memperkuat tren ini.

Dampak di Dalam Negeri

Bank Indonesia juga mengikuti kebijakan global dengan memangkas suku bunga 25 basis poin menjadi 4,75% pada bulan September 2025. Langkah ini mendorong permintaan emas domestik meningkat, meskipun di sisi lain menekan nilai tukar rupiah yang sempat melemah hingga Rp16.970 per dolar AS. Data dari World Gold Council menunjukkan bahwa permintaan emas di Indonesia pada paruh pertama 2025 meningkat 20,87% yoy menjadi 21,2 ton, didominasi oleh emas batangan.

Peningkatan Penjualan Emas Batangan oleh HRTA

PT Hartadinata Abadi Tbk mencatat penjualan emas batangan sebesar 8,1 ton, atau tumbuh 76,86% dibandingkan tahun sebelumnya. Direktur Utama HRTA, Sandra Sunanto, menegaskan bahwa momentum penguatan harga emas global menunjukkan daya tahan emas terhadap ketidakpastian ekonomi dunia. Menurutnya, emas bukan hanya pelindung nilai, tetapi juga instrumen penting dalam perencanaan keuangan jangka panjang bagi keluarga Indonesia.

Per 6 Oktober 2025 pukul 08.41 WIB, harga HRTA Gold tercatat Rp2.217.000 per gram. Sandra menambahkan, "Melalui HRTA Gold, kami ingin menghadirkan emas bukan sekadar simbol kemewahan, melainkan aset yang inklusif, relevan dengan gaya hidup modern, dan bernilai lintas generasi."