Kerugian Ratusan Miliar Won untuk Korsel Akibat Boikot Wisata Asia Tenggara
Sumber Foto: Radar Jogja
Hiburan

Kerugian Ratusan Miliar Won untuk Korsel Akibat Boikot Wisata Asia Tenggara

RADAR MALIOBORO - Insiden pelanggaran aturan konser Day6 di Malaysia memicu perang komentar rasis dari netizen Korea Selatan terhadap warga Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Akibatnya, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Korsel mengaku kerugian ekonomi mencapai ratusan miliar won gara-gara pembatalan tur massal.

Gelombang boikot wisata ke Korea Selatan (Korsel) dari netizen Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya terus menguat.

Penyebabnya adalah kasus dugaan rasisme yang meledak di media sosial setelah insiden di konser grup K-pop Day6 pada 31 Januari 2026 di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia.

Seorang penggemar asal Korea Selatan kedapatan menggunakan kamera profesional besar yang melanggar aturan konser.

Video tersebut viral dan dikritik netizen Asia Tenggara karena dianggap tidak menghormati regulasi tuan rumah.

Komentar-komentar bernada merendahkan bermunculan, seperti stereotip ekonomi "miskin", ejekan fisik, agama, hingga perbandingan perempuan Asia Tenggara dengan "monyet" atau hinaan spesifik terhadap Indonesia seperti "nggak punya duit, sewa set rekam di sawah karena miskin". Hal ini memicu amarah besar-besaran.

Netizen dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam bersolidaritas dengan tagar boikot wisata Korea.

Dukungan juga datang dari Eropa (Jerman, Prancis, Belanda) hingga Brasil, yang mengecam rasisme dan membatalkan rencana perjalanan ke Seoul serta Jeju.

Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korsel, Choi Huiyung, angkat bicara dengan nada prihatin. Ia mengakui kerugian ekonomi sangat besar.

"Kami kaget dengan pembatalan tur dari negara-negara Asia Tenggara dan beberapa negara Eropa. Kerugian mencapai ratusan miliar won hanya dalam waktu singkat," ujar Choi Huiyung, seperti dikutip dari berbagai sumber media sosial dan berita internasional.

Menurut laporan, agen perjalanan melaporkan lonjakan pembatalan paket tur, hotel di Seoul dan Jeju menerima pembatalan reservasi secara massal.

Influencer Korea pun mendapat backlash keras, termasuk komentar "wajah plastik" yang memicu stres di kalangan selebriti.

Choi menegaskan bahwa tindakan rasis tidak mewakili seluruh rakyat Korea Selatan, namun ia menyebut ini sebagai "alarm keras" bahwa reputasi digital kini berdampak langsung pada ekonomi riil.

"Konflik di dunia maya bisa memicu gelombang yang mengguncang ekonomi sebuah negara," tulis narator dalam video viral TikTok dari akun @auraverum yang telah ditonton jutaan kali.

Kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang kekuatan solidaritas digital di Asia Tenggara.

Bagi warga Yogyakarta dan Indonesia secara umum, insiden ini menunjukkan betapa suara netizen bisa memengaruhi hubungan internasional dan pariwisata global.