Radar News - Lesu, inilah satu kata yang secara sederhana menggambarkan kiprah tim-tim Italia di kompetisi antarklub Eropa musim 2025-2026. Di Liga Champions, hanya tinggal Atalanta saja yang maju ke babak 16 besar.
Inter Milan yang dua kali menjadi finalis dalam 3 musim terakhir kalah agregat 2-5 dari tim kejutan Bodo-Glimt (Norwegia). Juventus juga bernasib serupa, saat dikalahkan Galatasaray (Turki) dengan agregat 5-7.
Dua tim raksasa Italia yang rontok di babak play-off ini menyusul jejak Napoli. Juara bertahan Serie A ini sudah lebih dulu tumbang di fase liga.
Meski harapan masih tersisa, Atalanta sebenarnya belum cukup kuat untuk level Liga Champions. Tim juara Liga Europa musim 2023-2024 ini baru berada dalam tahap "membangun kebiasaan" tampil di Eropa, karena baru mulai terbiasa bersaing di papan atas Serie A sejak beberapa tahun terakhir.
Bisa dibilang, La Dea belum berada pada level tim penantang juara Eropa. Mereka masih butuh waktu untuk sampai ke sana, karena memang membangun tim dengan gaya organik, bukan dengan gelontoran fulus melimpah.
Harapan itu juga terlihat semakin tipis, karena Giacomo Raspadori dkk akan berhadapan dengan Bayern Munich, raksasa Jerman yang tampil garang di bawah arahan Vincent Kompany.
Secara tradisional, Italia punya Juventus dan duo Milan sebagai representasi. Dengan meraih total 12 gelar Liga Champions, mereka punya sejarah panjang, dan menjadi satu dari empat liga terbaik Eropa.
Tapi, sejak mekarnya popularitas Liga Inggris, modernisasi di Bundesliga Jerman, evolusi proyek Galactico Real Madrid, dan akademi La Masia Barcelona, Liga Italia mulai tertatih-tatih.
Setelah Treble historis Inter Milan di tahun 2010, tim-tim Negeri Pizza belum pernah lagi meraih Si Kuping Besar. Empat kekalahan di final sejak saat itu, yang dialami Juventus dan Inter Milan masing-masing dua kali, seolah menjadi penegas, tuah "calcio" sudah mulai mentok.
Kemunduran pasca Calciopoli, ditambah penurunan daya beli klub secara umum, benar-benar menggerus daya saing di Eropa.
AC Milan masih belum menemukan lagi aura spesial mereka, sejak meraih gelar Liga Champions ketujuh di musim 2006-2007. Ini membuat Juventus dan Inter Milan punya beban ekstra.
Celakanya di saat liga-liga top lain berlomba-lomba memodernisasi taktik sampai mengumpulkan talenta muda kelas satu, Liga Italia masih setia kepada taktik lama dan senioritas. Di sini, pemain-pemain senior masih lebih banyak dipercaya ketimbang pemain muda.