Makroergonomi: Kunci Kesejahteraan Emosional Dosen di Era Digitalisasi Kampus
Sumber Foto: harianfajar
Teknologi

Makroergonomi: Kunci Kesejahteraan Emosional Dosen di Era Digitalisasi Kampus

Oleh: Rezki Amelia Aminuddin A.P.

Notifikasi masuk tanpa henti. Grup kelas aktif sampai malam. Permintaan revisi artikel jurnal datang bersamaan dengan tenggat pelaporan beban kerja. Di sela-sela itu, dosen tetap harus menyiapkan materi kuliah, membimbing mahasiswa, menjalankan penelitian, dan terlibat pengabdian. Transformasi digital memang menjanjikan efisiensi, tetapi juga menciptakan “mode kerja selalu terhubung” yang perlahan mengikis batas antara pekerjaan dan waktu pemulihan.

Gambaran ini bukan sekadar cerita personal. Di berbagai negara, digitalisasi pendidikan tinggi dinilai membawa konsekuensi baru berupa perubahan relasi kerja, tekanan temporal (kecepatan dan simultanitas tugas), serta potensi “lock-in” pada sistem digital yang terus menambah lapisan pekerjaan administratif. Sebuah artikel ilmiah tentang digitalisasi pendidikan tinggi menyoroti bahwa dampak agregat digitalisasi pada sektor pendidikan tinggi masih menyimpan risiko dan potensi harm yang perlu dicermati, termasuk pada aspek kerja dan relasi institusional.

Berangkat dari realitas tersebut, saya sebagai mahasiswa Program Doktor Rekayasa Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII), mengembangkan sebuah gagasan yang kuat: persoalan kesejahteraan emosional dosen tidak cukup dipahami sebagai masalah individu semata. Ini harus dibaca sebagai persoalan desain sistem kerja—dan karena itu, solusinya juga harus berupa model kebijakan yang dirancang melalui perspektif Rekayasa Industri dan Makroergonomi.