Pakar Eropa: Serangan Baru ke Iran Berisiko Tinggi dan Menciptakan Dampak Besar
Namun, sejumlah pakar Eropa menilai pengalaman perang Juni dan kemampuan daya tangkal Iran telah menjadikan setiap petualangan militer sebagai keputusan berisiko tinggi yang membawa biaya besar serta dampak yang tak terduga.
Israel memulai perang 12 hari pada 13 Juni 2025 dengan membunuh ilmuwan nuklir dan pejabat militer senior Iran, serta menyerang lokasi nuklir, militer, dan kawasan permukiman di ibu kota Teheran dan wilayah lain. Amerika Serikat kemudian ikut terlibat dengan mengebom tiga fasilitas nuklir utama di Natanz, Isfahan, dan Fordow. Iran menanggapi agresi tersebut dengan serangan rudal dan drone ke dalam wilayah Israel serta ke pangkalan udara besar Amerika Serikat di Qatar.
Dalam wawancara dengan IRNA yang dipublikasikan Minggu, peneliti Inggris Steve Bell mengatakan perang Juni menunjukkan kepada Amerika Serikat bahwa Iran “mampu membalas secara efektif.”
Ia menambahkan kemampuan Iran mengorganisasi kembali pasukannya setelah serangan awal tanpa provokasi dan kemudian menimbulkan kerusakan berat pada instalasi Israel memberi alasan bagi Amerika Serikat untuk berhati-hati. Serangan balasan Iran yang menembus pertahanan udara Israel juga disebut sebagai “kejutan besar” bagi rezim tersebut dan masyarakat Israel yang terbiasa dengan gagasan “kebal.”
Bell menyatakan jika Israel mengalami kerusakan besar pada Juni 2025, maka instalasi Amerika Serikat di negara mana pun di kawasan juga rentan, seraya memperingatkan serangan baru terhadap Iran dapat memicu eskalasi militer regional.
Ia juga menyoroti implikasi domestik bagi Presiden Donald Trump. Menurutnya, serangan baru terhadap Iran akan bertentangan dengan basis pendukung MAGA yang menginginkan berakhirnya perang tanpa hasil jelas, sementara publik Amerika Serikat secara umum menolak aksi militer lanjutan.
Jajak pendapat Quinnipiac University pada 14 Januari menunjukkan 70 persen menolak aksi militer terhadap Iran dan hanya 18 persen mendukung. Dalam tahun pemilu paruh waktu, tindakan terhadap Iran dapat berdampak serius di dalam Amerika Serikat maupun Asia Barat.
Iran Bukan Lawan Lemah
Mantan anggota parlemen Inggris Chris Williamson menyampaikan pandangan serupa. Ia mengatakan perang baru terhadap Iran kemungkinan membawa konsekuensi militer signifikan bagi Amerika Serikat dan Israel karena “Iran bukan lawan yang mudah.”
Ia memperkirakan Iran kini jauh lebih siap dalam pertahanan udara, sementara kemampuan balasannya telah terlihat saat merespons serangan Israel. Menurutnya, respons berikutnya hampir pasti akan jauh lebih menghancurkan.
Williamson juga menilai kelompok tempur kapal induk Abraham Lincoln milik Amerika Serikat di Asia Barat memang memiliki kemampuan menyerang Iran, tetapi kapal induk dan armada lainnya akan “sangat rentan” terhadap serangan rudal Iran.
Ia menggambarkan dampak serangan militer baru terhadap Iran bagi negara-negara kawasan sebagai “berpotensi katastrofik,” karena efek ekonomi dapat meruntuhkan perekonomian mereka dan konsekuensi militernya juga besar.
Serangan Baru terhadap Iran ‘Bunuh Diri Politik’ bagi Trump
Mantan diplomat Inggris Alastair Crooke menyebut setiap petualangan militer Amerika Serikat terhadap Iran sebagai “bunuh diri politik” yang akan merugikan pemerintahan Trump dalam pemilu paruh waktu. Ia juga menyinggung pukulan berat Iran terhadap Israel selama perang 12 hari yang mendorong Tel Aviv meminta gencatan senjata kepada Trump. [IT/G]




