Penurunan Kualitas Sinyal Internet di Natuna Diterangkan oleh Cuaca Ekstrem
Warga Kabupaten Natuna, yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau, mengeluhkan penurunan kualitas sinyal internet, terutama dari provider Telkomsel. Hal ini terjadi dalam beberapa hari terakhir dan berimbas pada penggunaan aplikasi serta komunikasi di sejumlah desa.
Rian Tabrani, seorang warga Desa Klarik, menyatakan bahwa meskipun sinyal telepon masih dapat digunakan, kualitas sinyal internet mengalami penurunan yang signifikan. "Untuk di desa kami Klarik, telepon masih normal, cuma untuk internet sinyal melemah, terutama untuk menggunakan aplikasi," ungkapnya.
Penyebab utama dari masalah ini adalah robohnya tower telekomunikasi akibat cuaca ekstrem yang disertai angin kencang. Rian juga menginformasikan bahwa terdapat satu desa, yaitu Gunung Durian di Bunguran Utara, yang sama sekali tidak dapat menjangkau sinyal telepon maupun internet. "Ada sekitar 200 KK di desa Gunung Durian yang tidak bisa nelepon dan internet karena tak ada sinyal, akibat tower roboh," tambahnya.
Menanggapi keluhan tersebut, pemerintah daerah Kabupaten Natuna telah berkoordinasi dengan Telkomsel dan pihak terkait lainnya untuk mencari solusi. Rian menyebutkan bahwa pihaknya mendapatkan informasi bahwa akan dibangun tower sementara untuk mengatasi masalah ini.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Natuna, Ikhwan Sholihin, menjelaskan bahwa kejadian robohnya tower telekomunikasi terjadi pada malam hari, tepatnya pada Kamis (8/1/2026) sekitar pukul 23.45 WIB. Menurutnya, insiden ini murni disebabkan oleh faktor alam. "Dari hasil koordinasi kami dengan Telkomsel, tower tersebut roboh akibat cuaca ekstrem dan angin kencang," ujarnya.
Meski demikian, Ikhwan memastikan bahwa tidak ada korban jiwa maupun kerusakan pada bangunan warga di sekitar lokasi kejadian. "Alhamdulillah tidak ada korban, baik korban jiwa maupun kerusakan bangunan di sekitar lokasi," tuturnya.
Dia juga mengakui adanya penurunan kualitas sinyal di area sekitar tower yang roboh, meskipun layanan komunikasi masih tetap berfungsi. "Sinyal masih ada, hanya kualitasnya menurun. Misalnya yang biasanya penuh, sekarang tinggal dua atau tiga bar," jelasnya.
Sementara itu, Ikhwan menjelaskan bahwa menara yang roboh bukanlah aset milik Telkomsel. Menara tersebut dimiliki oleh penyedia infrastruktur jaringan yang bekerja sama dengan Telkomsel, yang hanya menempatkan perangkat pemancar di menara tersebut. "Tower itu bukan milik Telkomsel, tapi milik provider pengelola infrastruktur jaringan. Telkomsel hanya menumpangkan perangkatnya di situ," katanya.
Untuk mengatasi situasi ini, Telkomsel berencana mengirimkan tim teknis dari Batam ke lokasi kejadian. Mereka sedang berupaya untuk memastikan konektivitas sementara dengan memaksimalkan jangkauan dari menara terdekat. "Mereka sudah turun langsung ke lapangan dan berupaya menjaga kualitas layanan semaksimal mungkin dengan memanfaatkan jaringan dari tower terdekat," ujarnya.
Mengenai pembangunan kembali menara yang telah roboh, Kadis Kominfo menyatakan bahwa proses tersebut sudah dimulai dan ditangani oleh pihak pengelola infrastruktur. Targetnya, menara tersebut diharapkan dapat berdiri kembali dalam bulan ini. "Sekarang masih tahap pengerjaan. Targetnya bulan ini selesai, tentu dengan catatan tidak ada kendala teknis, cuaca, maupun transportasi, karena perangkatnya juga didatangkan dari luar," pungkasnya.




