Rusia Melirik Investasi di Sektor Industri dan Pergudangan Indonesia
JAKARTA, KOMPAS.com - Turbulensi geopolitik global yang kian dinamik sepanjang tahun 2025 telah memicu pergeseran arus modal yang tak terduga.
Indonesia muncul dalam "radar" utama para pemodal dari Rusia dalam beberapa tahun terakhir seiring perang dengan Ukraina yang tak berkesudahan.
Fenomena eksodus investor Rusia ini bukan lagi sekadar wacana diplomatik, melainkan realitas industri yang kini mendarat secara masif di berbagai kawasan industri strategis di Tanah Air.
Indonesia, yang dinilai sebagai salah satu penampil ekonomi terbaik di Asia Pasifik dengan pertumbuhan ekonomi di angka 5-6 persen, menawarkan stabilitas yang kini menjadi barang mewah di belahan dunia lain.
Para investor Rusia tidak hanya memindahkan modal, tetapi juga membawa teknologi manufaktur canggih untuk membangun basis produksi jangka panjang di Indonesia.
Masuk Radar Global
Masuknya perusahaan-perusahaan Rusia ini mengonfirmasi tren rekonfigurasi peta industri global.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, berendapat bahwa optimisme yang dikirimkan pemerintah melalui berbagai kebijakan insentif telah ditangkap dengan baik oleh para pemangku kepentingan global.
Dalam tinjauan Knight Frank Property Outlook 2026, Syarifah mencatat bahwa stabilitas makroekonomi menjadi kunci utama Indonesia masuk dalam radar investasi Rusia.
"Berdasarkan survei kami, hampir 55 persen responden menyatakan pertumbuhan ekonomi akan stabil. Yang menarik adalah aliran modal ke subsektor industri dan pergudangan yang diprediksi akan terus meningkat tajam di 2026," ungkap Syarifah, Jumat (23/1/2026).
Syarifah menegaskan bahwa sektor industri dan pergudangan akan menjadi "panggung utama" pada tahun 2026.
Hal ini selaras dengan kebutuhan investor Rusia yang mencari ruang industri dengan infrastruktur mumpuni.
"Kita tidak lagi bicara tentang spekulasi, kita bicara tentang kebutuhan riil industri global yang berpindah ke tempat yang lebih aman dan produktif," jelasnya.
Tantangan di Tengah Optimisme
Meski arus modal Rusia mulai mengalir deras, tantangan besar tetap membayangi.
Syarifah mengingatkan bahwa pelemahan daya beli, harga tanah yang tinggi, dan inflasi menjadi variabel yang harus dikelola dengan hati-hati oleh pengelola kawasan industri.
"Tantangan properti dan industri saat ini adalah bagaimana tetap kompetitif di tengah kenaikan biaya operasional. Namun, dengan adanya kebijakan PPN DTP dan insentif lainnya, daya tarik investasi kita masih sangat kuat," tutur Syarifah.




