Saharudin Berperan Penting dalam Evakuasi Wisatawan saat Gempa di Gunung Rinjani
Mataram (ANTARA News) - Pagi yang indah di Gunung Rinjani mendadak berubah menakutkan ketika gempa bumi berkekuatan 6,4 mengguncang Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 29 Juli 2018. Suasana ketegangan meningkat ketika teriakan panik wisatawan bercampur gemuruh longsoran tebing, yang menimbulkan kepanikan di kalangan para pendaki.
Saharudin, petugas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), adalah satu-satunya petugas yang berada di lokasi saat gempa terjadi. Dalam keadaan darurat tersebut, telepon selulernya yang masih mendapatkan sinyal menjadi alat vital komunikasi. "Suasana sangat menakutkan. Jarak pandang sangat terbatas akibat debu longsoran," ungkap Saharudin.
Ketika gempa mengguncang, ribuan wisatawan yang tengah menikmati pemandangan terpaksa berusaha menyelamatkan diri dari potensi bahaya yang mengancam. Berkat sinyal telepon yang masih berfungsi, Saharudin dapat menghubungi rekan-rekannya di BTNGR Resort Sembalun untuk mendapatkan kepastian bahwa yang terjadi adalah gempa dan bukan letusan gunung.
"Saya merasa tenang setelah mendapatkan informasi bahwa longsoran diakibatkan oleh gempa," tambah Saharudin. Ia pun mengantisipasi kemungkinan adanya gempa susulan dan menginformasikan para wisatawan serta pemandu wisata untuk tetap tenang.
Saharudin tidak hanya berfokus pada komunikasi, tetapi juga aktif dalam proses evakuasi. Ia berkoordinasi dengan Kepala BTNGR Sudiyono dan tim Badan SAR Nasional untuk memastikan keselamatan para pendaki. "Kami sepakat untuk bermalam di tempat yang aman sambil menunggu bantuan," jelasnya.
Dari hasil koordinasi melalui telepon, Saharudin berhasil membantu mengevakuasi 1.097 orang yang terjebak di lokasi. Mereka terdiri dari 723 wisatawan asing dan 374 wisatawan domestik. Proses evakuasi berlangsung dari 29 hingga 31 Juli 2018, dengan banyak yang berhasil dibawa ke Sembalun dan Senaru.
Saharudin menegaskan pentingnya keberadaan sinyal telekomunikasi di daerah pegunungan, terutama di titik-titik yang sering dikunjungi pendaki. "Seandainya tidak ada sinyal, kami mungkin tidak tahu apa yang harus dilakukan," tegasnya.
Ketua Porter-Guide Rinjani Sembalun, Habibullah, juga mengakui adanya kesulitan dalam berkomunikasi di beberapa titik, seperti di Danau Segara Anak. Ia berharap perhatian lebih dari penyedia layanan telekomunikasi untuk meningkatkan jangkauan sinyal di area tersebut, yang merupakan lokasi berkumpulnya banyak pendaki.
Manager Branch Telkomsel Mataram, Sandy Adyat, menjelaskan bahwa meskipun mereka telah membangun banyak infrastruktur telekomunikasi, masih ada beberapa area pegunungan yang sulit dijangkau. Pihaknya berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas jaringan di kawasan wisata seperti Gunung Rinjani.
Dengan adanya upaya dan koordinasi yang baik, peristiwa tersebut menunjukkan betapa pentingnya komunikasi dalam situasi darurat. Saharudin dan timnya berhasil menyelamatkan banyak nyawa, berkat keberadaan sinyal telepon yang memadai di lokasi tersebut.




