Sinyal Amerika Serikat Menghentikan Rencana Serangan Militer Terhadap Iran
Sumber Foto: TIMES Indonesia
Sinyal Peristiwa

Sinyal Amerika Serikat Menghentikan Rencana Serangan Militer Terhadap Iran

JAKARTA – Terdapat indikasi bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengurungkan niat untuk menyerang Iran setelah mendengar laporan bahwa tindakan pembunuhan terhadap pengunjuk rasa di negara tersebut telah berhenti. Pernyataan ini disampaikan oleh Trump di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

Menurut laporan yang dilansir oleh Al Jazeera dan mengutip Wall Street Journal, sinyal tersebut terlihat dari pernyataan Trump yang menyebutkan bahwa Iran tidak lagi melakukan eksekusi terhadap para pengunjuk rasa anti-pemerintah. Hal ini mencerminkan perubahan sikap dari sebelumnya, di mana Trump mengancam akan melakukan serangan militer sebagai respons terhadap situasi yang memburuk di Iran.

Pada hari Rabu, Trump mengonfirmasi kepada wartawan bahwa Iran telah menghentikan pembunuhan terhadap pengunjuk rasa. Pernyataan ini muncul setelah militer AS mengumumkan evakuasi sejumlah personel dari pangkalan militer mereka sebagai langkah pencegahan akibat ketegangan yang meningkat.

Beberapa jam sebelumnya, Trump sempat berkomunikasi dengan warga Iran yang melakukan protes, menyatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” dan menyarankan warga Amerika di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut. Namun, pada saat yang sama, ia juga menolak kemungkinan negosiasi dengan Iran, menyatakan bahwa semua pertemuan dengan pejabat Iran dibatalkan hingga pembunuhan terhadap para demonstran dihentikan.

Meski demikian, Trump kini terlihat lebih memilih pendekatan yang tidak melibatkan kekuatan militer, dengan mempertimbangkan opsi seperti serangan siber, sanksi, dan dukungan terhadap pesan anti-rezim secara daring. Ia menyatakan, “Kami akan memantau situasi dan melihat bagaimana perkembangan selanjutnya.”

Respons Iran terhadap Ancaman Militer

Sementara itu, Iran merespons dengan tegas, dengan kepala Korps Garda Revolusi Islam menyatakan kesiapan untuk membalas terhadap musuh-musuhnya, termasuk Amerika Serikat dan Israel, yang dituduh terlibat dalam unjuk rasa tersebut. Iran juga menutup wilayah udaranya untuk sebagian besar penerbangan sebagai langkah antisipasi.

Pada hari Rabu, Iran mengeluarkan peringatan Notice to Air Missions (NOTAM) yang melarang semua penerbangan kecuali yang mendapatkan izin. Penutupan ini berlangsung lebih dari dua jam, yang menunjukkan tingginya ketegangan di kawasan tersebut.

Menurut LSM Iran Human Rights (IHR), dalam beberapa hari terakhir, pasukan keamanan Iran telah menewaskan sedikitnya 3.428 pengunjuk rasa, dengan lebih dari 10.000 orang ditangkap. Informasi terbaru menunjukkan bahwa angka korban meningkat akibat laporan baru dari dalam kementerian kesehatan dan pendidikan Iran.

Direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam, menekankan pentingnya perhatian dari masyarakat internasional terhadap ancaman eksekusi massal terhadap demonstran yang ditahan. Ia mengingatkan bahwa tindakan serupa telah terjadi di masa lalu dan harus diantisipasi dengan serius.

Pernyataan ini muncul setelah kepala badan peradilan Iran memberikan sinyal bahwa akan ada persidangan cepat dan kemungkinan eksekusi terhadap mereka yang ditahan dalam protes, meskipun ada ancaman dari Trump mengenai tindakan militer jika situasi memburuk.