Sistem Canggih AS untuk Memantau Rudal Iran
Radar News - Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target strategis. Serangan ini berdampak pada keamanan regional dan memicu lonjakan harga minyak dunia.
Awal Kejadian
Serangan rudal dan drone oleh Iran telah menciptakan pertanyaan mengenai bagaimana Amerika Serikat (AS) mendeteksi ancaman ini dengan cepat. Jawabannya terletak pada sistem pertahanan berlapis yang canggih, yang mengandalkan jaringan sensor dari luar angkasa, darat, laut, hingga udara untuk memantau ancaman secara real-time.
Perkembangan
Deteksi rudal dimulai dari luar angkasa melalui satelit khusus seperti Space-Based Infrared System (SBIRS), yang dapat mendeteksi jejak panas dari peluncuran rudal dalam hitungan detik. Sinyal peringatan kemudian dikirim melalui komunikasi satelit aman ke stasiun darat, yang mendistribusikan informasi ke seluruh jaringan pertahanan rudal.
Setelah deteksi awal, radar berbasis darat melanjutkan pelacakan dengan memancarkan gelombang radio. AS menggunakan radar jarak pendek dan jauh, seperti AN/FPS-132 Early Warning Radar dan AN/TPY-2 Radar, untuk menentukan posisi, kecepatan, dan arah rudal. Namun, beberapa radar ini telah menjadi target serangan Iran, memaksa AS memindahkan unit tambahan dari Korea ke Timur Tengah untuk mempertahankan kemampuan pelacakan.
Selain radar dan satelit, AS juga memanfaatkan kapal perang dan pesawat sebagai sensor bergerak. Kapal Angkatan Laut dilengkapi dengan sistem radar Aegis, sementara pesawat seperti E-3 Sentry dan drone MQ-9 Reaper memperkuat pengawasan dari udara.
Kondisi Terakhir
AS menghadapi tantangan baru dari drone Iran, yang sulit dideteksi oleh sistem pertahanan yang ada. Drone tersebut dirancang agar jejak panasnya minimal dan dapat terbang rendah, sehingga sulit dibedakan dari objek lain. Untuk mendeteksi drone, AS menggunakan radar, pelacakan sinyal radio, dan sensor visual, meskipun beberapa drone tidak dapat terdeteksi karena tidak dikendalikan secara jarak jauh. AS dan sekutunya terus mengembangkan sistem pertahanan untuk menghadapi ancaman ini, termasuk mempertimbangkan penggunaan sensor akustik dari Ukraina untuk meningkatkan deteksi.




