Upaya TNI AU dalam Memantau Pesawat Asing di Perairan Ambalat
Jakarta - Wilayah Tarakan, Kalimantan Utara, berperan penting sebagai garis terdepan dalam menjaga keamanan perairan Ambalat. Untuk meningkatkan pengawasan di area tersebut, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) telah membentuk Satuan Radar (Satrad) 225 yang beroperasi di bawah Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) II Makassar.
Satrad 225 dilengkapi dengan alat utama sistem senjata (Alutsista) Radar tipe Plessey AR 325 Commander yang berfungsi untuk memantau pergerakan pesawat asing di perairan Ambalat. Radar ini dapat mengidentifikasi pesawat maupun kapal asing yang melintas hingga sejauh 250 mil dari Tarakan.
Menurut Komandan Satrad 225, Mayor Lek M. Suarna Hasal, radar buatan Inggris yang diinstal pada tahun 1992 ini telah beroperasi sejak 2 Februari 1993. Suarna menjelaskan bahwa sistem komunikasi yang digunakan untuk mendukung operasi di Satrad 225 sudah cukup lengkap, termasuk berbagai jenis radio untuk komunikasi dan pengendalian.
"Kami memiliki alat komunikasi yang memadai, termasuk Radio HF SSB untuk komunikasi kodal dan Radio GTA VHF/UHF untuk monitoring penerbangan dan kontrol pengendalian pesawat tempur," jelas Suarna. Ia menambahkan bahwa informasi yang diperoleh dari pemantauan radar akan ditampilkan secara real-time di pusat operasi Kosekhanudnas II melalui sistem komunikasi SBM K3I.
Dalam mengenali sasaran yang terdeteksi, Satrad 225 menggunakan tiga metode, yaitu:
- Metode Elektronik: Menggunakan data IFF (Identification Friend or Foe) dan memantau komunikasi antar pesawat.
- Metode Korelasi: Mencocokkan data sasaran yang tertangkap dengan data penerbangan yang terjadwal.
- Metode Visual: Dilakukan oleh pesawat penyergap jika metode elektronik dan korelasi tidak berhasil.
Suarna mengungkapkan bahwa dalam lima bulan terakhir, terdapat peningkatan pelanggaran oleh pesawat Malaysia yang melintas di wilayah Indonesia. Ia mencatat bahwa pesawat-pesawat tersebut, baik militer maupun sipil, sering kali melewati area Ambalat sebelum mendarat di Tawau, Malaysia.
"Seharusnya mereka langsung landing di Tawau, tetapi justru melintas di sektor Ambalat sebelum itu," keluh Suarna. Pesawat yang tidak dikenali akan terlihat dengan tanda merah di radar, sedangkan pesawat yang dikenali akan memiliki tanda kuning. Suarna menegaskan bahwa meskipun telah diberikan peringatan, alasan yang diberikan oleh pihak Malaysia adalah untuk patroli.




