Wacana Koalisi Permanen Golkar Memicu Respons Dari PDIP dan PKS
Sumber Foto: Berita Nasional - Media Pencerah Bangsa
Sinyal Peristiwa

Wacana Koalisi Permanen Golkar Memicu Respons Dari PDIP dan PKS

Wacana mengenai koalisi permanen yang diusulkan oleh Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, pada peringatan HUT ke-61 Golkar, telah menarik perhatian dari dua partai politik besar, yaitu PDIP dan PKS. Pakar politik Arifki Chaniago menyatakan bahwa respons cepat dari kedua partai tersebut menunjukkan bahwa isu koalisi ini dianggap serius dan tidak sekadar seremonial.

Chaniago menjelaskan bahwa PDIP saat ini masih berada dalam posisi yang tidak pasti, di mana partai tersebut tidak terlibat dalam kabinet namun tetap menunjukkan dukungan politik dari luar. Di sisi lain, PKS memiliki pengalaman berkoalisi dengan Prabowo, meskipun hubungan tersebut sempat merenggang ketika PKS mendukung Anies Baswedan dalam Pilpres 2024. Hal ini memberi keuntungan tersendiri bagi PKS, terutama jika mereka dapat mengusulkan nama menteri profesional kepada presiden terpilih.

Pernyataan Bahlil yang menyinggung Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, terkait komentar tentang banjir di Sumatera, menunjukkan adanya dinamika internal dalam kekuatan politik pendukung pemerintah. Cak Imin, sebagai mantan cawapres Anies, masih memiliki ruang untuk merespons isu publik dengan baik, yang dapat menguntungkan posisinya di mata pemilih oposisi.

Menurut Chaniago, jika wacana koalisi permanen benar-benar terealisasi, partai-partai politik kemungkinan akan mulai menyalakan 'lampu sen' politik mereka. Partai-partai yang seharusnya berperan sebagai oposisi selama ini tampak cukup nyaman dengan pendekatan Prabowo yang merangkul berbagai pihak dan membuka ruang bagi beragam segmen kekuasaan. Keputusan untuk bergabung atau tidak ke dalam pemerintahan akan sangat tergantung pada tawaran dan pilihan strategis masing-masing partai.

Chaniago juga menilai bahwa gaya politik Prabowo yang akomodatif dapat memperluas jaringan dukungan, namun di sisi lain dapat melemahkan posisi tawar partai-partai pengusung awal. Semakin banyak partai yang bergabung dalam orbit kekuasaan Prabowo, semakin besar pembagian pengaruh di antara para aktor politik, yang dapat membuat dinamika politik menjelang 2029 menjadi lebih kompleks.

Melihat arah politik jangka panjang, Chaniago mengungkapkan bahwa kemungkinan bagi Prabowo menuju 2029 sangat terbuka lebar. Ia dapat tetap berkoalisi dengan Gibran, AHY, atau bahkan bergeser ke tokoh lain seperti Puan. Kerjasama dengan Dedi Mulyadi bukanlah hal baru, mengingat Prabowo dan Sandiaga Uno sebelumnya merupakan sesama kader Gerindra. Jika pilihan-pilihan tersebut tidak terwujud, figur seperti Sekkab Teddy atau Menteri Keuangan Purbaya juga mungkin dipertimbangkan.