Radar News - Fenomena hanyutnya ribuan hingga jutaan bangkai ikan di Sungai Martapura menunjukkan adanya tekanan ekologis yang serius pada ekosistem sungai. Hal ini disampaikan oleh akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang memperingatkan akan dampak pencemaran yang dapat mengancam kualitas air dan kehidupan biota perairan.
Kematian massal ikan di kawasan keramba apung di Sungai Martapura dipandang sebagai sinyal bahwa keseimbangan ekosistem sungai mulai terganggu. Dosen Fakultas Teknik ULM, Akbar Rahman, menjelaskan bahwa penurunan debit air akibat musim kemarau menyebabkan volume air menyusut, suhu meningkat, dan kadar oksigen terlarut menurun, sementara konsentrasi bahan pencemar menjadi semakin tinggi.
Akbar menegaskan bahwa kondisi ini bukanlah kejadian biasa, melainkan indikasi adanya gangguan serius terhadap ekosistem sungai. Ia juga mengungkapkan bahwa kawasan dengan kepadatan keramba tinggi berisiko lebih besar, di mana ikan lebih mudah mengalami stres ketika kadar oksigen menurun, yang dapat menyebabkan kematian massal.
Akbar menyoroti dugaan adanya bangkai ikan yang sengaja dihanyutkan ke sungai. Jika terbukti, hal ini akan memperparah pencemaran yang sudah ada. Proses pembusukan bangkai ikan meningkatkan beban pencemaran organik, menurunkan kadar oksigen terlarut, mempercepat pertumbuhan bakteri, dan menimbulkan bau menyengat yang mulai dirasakan masyarakat di sepanjang aliran Sungai Martapura.