Tuan Kulus: Legenda Pengusaha Batu Bara dan Perkebunan di Berau
Internasional

Tuan Kulus: Legenda Pengusaha Batu Bara dan Perkebunan di Berau

Radar News - kaltimkece.id Kabar penguasa Sambaliung sedang mencari seseorang untuk membuka tambang batu bara benar-benar menarik hati Vincentius Alphonsus Cools. Pengusaha hasil bumi keturunan Eropa, berusia 35 tahun, dengan mata kelabu dan rambut cokelat, itu tidak pikir panjang. Ia bergegas memboyong istrinya dari Banjarmasin menuju Berau sekitar 1904. [1]

Tawaran membuka tambang itu rupanya datang dari Datuk Ranik, wali Sambaliung yang kelak naik takhta pada 11 Februari 1921 dengan gelar Sultan Muhammad Aminuddin. [2] Datuk Ranik setuju memberikan konsesi dengan syarat Cools harus membayar royalti per ton produksi batu bara.

Lima konsesi itu lokasinya berdekatan di daerah aliran Sungai Segah dan Sungai Kelay bernama Parapattan, Progress, Florence, Mary, dan Rantau Panjang. Cools membuka tambang perdananya di Parapattan bermodalkan warisan mendiang ibunya. [3]

Penambangannya cukup sederhana karena lapisan batu bara terbuka di tepi Sungai Kelay. Seturut waktu berlalu, penggalian batu bara merambah perbukitan dan menjadi sulit. Tantangan terbesar adalah tenaga kerja mesti didatangkan dari luar daerah. Oleh sebab itu, Cools harus membayar upah yang besar dan kendali yang ketat supaya para buruh tidak kabur. [4]

Usaha Cools perlahan berkembang. Ia merekrut seorang mandor Tionghoa dan bekas mantri tambang pemerintah. Jumlah pegawainya bertambah. Dokter-dokter, baik Eropa maupun bumiputra, berhasil ia pekerjakan. Pondok yang ia dirikan menjadi sebuah kota tambang kecil yang kelak dikenal dengan nama Teluk Bayur. [5]

Trem pengangkut buruh sedang berhenti di Teluk Bayur. Tahun tidak diketahui. FOTO: VAN SUCHTELEN, 1933

Cools melebarkan sayap bisnisnya ke perkebunan kelapa bernama Loensoeroeng Naga pada 1909. Lokasinya di Pulau Lungsurannaga di delta Sungai Berau. Luas kebun itu 4.800 bouw atau sekitar 3.840 hektare. Masa sewanya seharusnya habis pada 13 Oktober 1982. [6] Ia memiliki dua perkebunan lagi di Sambarata seluas 3.200 hektare yang berasal dari konsesi Kesultanan Gunung Tabur. [7]

Selanjutnya, Cools mendirikan sebuah perusahaan kayu Aankap en Wildhouthandel VA Cools yang ditopang konsesi 12.600 hektare. Lokasinya mencakup Sungai Pura dan Siagung di wilayah Gunung Tabur. [8] Tak cukup di situ, ia merajai industri pupuk di Berau semasa Perang Dunia Pertama. Cools menguasai gua-gua penghasil kotoran kelelawar. [9] Statusnya sebagai pengusaha hasil bumi di Berau paripurna sudah.

Tambang Hilang, Kayu Datang

Perusahaan tambang Cools berjaya sekitar 1906 hingga 1912 ketika memasok bahan bakar untuk kapal-kapal Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), raksasa pelayaran Belanda. [10] Ia juga mendapat kontrak dari Eduard George Taylor, kepala KPM di Hindia Belanda, untuk pengiriman secara rutin sejak 1905. [11]

Permintaan yang tinggi membuat Cools membuka tambang di konsesi lain termasuk Rantau Panjang. Tambang tersebut memproduksi 15.000 ton batu bara yang diangkut empat kapal uap, tiga perahu besi kecil, dan dua perahu besi besar. [12][13]

Kejayaan Cools di industri batu bara rupanya tak bertahan lama. Perang Dunia Pertama melambungkan harga batu bara sehingga KPM melirik usaha Cools. Lewat persetujuan pemerintah kolonial, dibentuklah NV Steenkolen Maatschappij Parapattan (NV SMP) pada 30 November 1914 dengan keterlibatan Cools, Datuk Ranik, dan KPM.

Sayangnya, perusahaan ini didominasi KPM disusul Datuk Ranik menjual semua sahamnya kepada KPM. Tinggallah Cools sendirian dan pada 1920 sahamnya juga dilego karena masalah utang. KPM akhirnya menjadi penguasa tunggal tambang batu bara di Berau. [14]

Kehilangan tambang tidak membuat mesin uang Cools tumbang. Ia masih memiliki perusahaan kayu Aankap en Wildhouthandel VA Cools, anak perusahaan NV Indische Teak-en Hardhouthandel. Perkebunannya masih utuh. Cools dan keluarga tetap tinggal di Berau mengurusi usaha tersebut selepas Perang Dunia Pertama.

Pada akhir 1930-an, Cools lewat NV SMP merajai bisnis perkayuan di utara Kalimantan. Konsesi raksasanya tersebar di Malinau, Mantritik, Pesayan, Suaran, dan Binungan. [15] Cools juga menjalin kerja sama dengan perusahaan kayu Jepang, Borneo Produce Company (BPC) yang berpusat di Kobe. Ketika perang Jepang-Tiongkok meletus pada 1937, BPC membeli lebih banyak kayu mentah dari Cools. [16]

Menetap di Berau selama hampir 40 tahun serta sukses menjalankan usaha, VA Cools menjadi populer. Warga Berau saat itu mengenalnya dengan sebutan Tuan Kulus.

Sebuah kereta mengangkut kayu bundar yang telah ditebang di hutan Nunukan pada 1928. FOTO: NMVW, FOTO KOLEKSI HENDRIK FREERK TILLEMA

Asal-Usul Tuan Kulus

Lahir di Tilburg, sebuah kota di Brabant Utara, Belanda, pada 30 September 1869, bungsu dari sebelas bersaudara ini besar di keluarga Katolik. Ayahnya bernama Willebrordus Cools, seorang penyamak, sedang ibunya bernama Antonetta Kanters. [17]

Deska Yolinda yang akrab disapa Desy adalah sepupu dari keturunan Cools. Kepada kaltimkece.id, ia mengatakan nenek moyangnya bukan dari Belanda melainkan Skotlandia. Mereka mengungsi ke Belgia ketika ratu Skotlandia dilengserkan Inggris.

Ketika berusia 15 tahun, Cools masuk novisiat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) di Tilburg. Ia menjalani pendidikan calon imam. [18] Alih-alih menjadi rohaniawan, ia banting setir menjadi tentara. Cools secara sukarela bergabung dengan Batalyon Instruksi (Instructie-Bataljon) di Kampen pada 7 Agustus 1887. Batalyon itu mencetak kopral-kopral infanteri untuk angkatan darat Belanda.

Cools kemudian diberangkatkan dari Rotterdam ke Batavia (Jakarta) dengan kapal uap Merapi dan tiba pada 10 Februari 1891. [19] Ia menjalani dinas sebagai tentara KNIL dengan pangkat kopral infanteri. [20] Cools terlibat dalam Perang Aceh dan Lombok, berhenti dari KNIL pada 6 Januari 1903 dengan pangkat setingkat pembantu letnan, lalu menjalani hidup baru sebagai pengusaha. [21]

Cools sempat kembali ke Belanda pada 5 September 1903 untuk menikahi Jeanette Constance Alixe Leroy. Istrinya kelahiran sebuah desa di sekitar Brussels, Belgia. Pengantin baru itu kembali ke Hindia pada 26 September 1903 menaiki kapal Oranje [22] lalu menetap di Banjarmasin. Ia membuka usaha hasil alam sampai mendengar kabar dari Thio Soen Jang, Kapitan Tionghoa di Banjarmasin, tentang rencana penguasa Sambaliung membuka tambang batu bara.

Masa Tua dan Akhir Hayat

Cools disebut sebagai tokoh legendaris. Wiraswasta Eropa itu berhasil merintis usaha di sebuah tanah nan terpencil.

Hendrik Freerk Tillema, ilmuwan dan pejabat kolonial Belanda yang mengunjunginya pada 1929, menjulukinya de pionier van Beraoe atau perintis Berau. Tillema juga mencatat bahwa orang-orang Dayak di Berau memandang Cools sebagai orang sakti, tanda menyegani dan menghormatinya.[23]

Dokumentasi wajah VA Cools pada usia tua. FOTO: MAJALAH HET KOLONIAAL WEEKBLAD, 1929, HLM 267.

Kejayaan usaha Cools akhirnya jatuh ketika Jepang datang pada 1942. Angkatan Laut Jepang (kaigun) menduduki Berau dan segera menginternir semua orang Eropa di sana. Mereka dimasukkan ke kamp tahanan di rumah sakit NV SMP (sekitar Apotek Teluk Bayur). Sebanyak 33 orang ditahan terdiri dari 16 pria termasuk Cools, enam wanita, dan 11 anak-anak.

Para tahanan dipindah ke Tarakan pada 28 November 1942 lalu dikirim ke Banjarmasin. [24] Setelah Jepang menyerah, Cools kembali ke Berau dan menetap hingga November 1950 di Tanjung Redeb saat usianya sudah 81 tahun. [25]

Tak diketahui kapan pastinya namun menjelang wafat Cools berangkat ke Eropa. Ia wafat di Ukkel, sebuah desa dekat Brussels, pada 18 Mei 1953, dalam usia 84 tahun. Usahanya di Berau diteruskan putranya, Andre Vincent Cools, yang lahir pada 26 April 1908 di Tanjung Redeb. Sebuah gang dekat rumah Andre di Tanjung Redeb menyandang namanya, Gang Ancol atau Andre Cools. [26] (*)

Senarai Kepustakaan

1 De Boer, M.G., dan J.C. Westermann. 1941, Een halve eeuw paketvaart, 1891-1941. Amsterdam: J.H. de Bussy. hlm. 304.

2 "Off. berichten: Civiel Departement," Bataviaasch Nieuwsblad, 20 April 1921, hlm. 2.

3"Een pionier," De Locomotief, 11 Februari 1920, hlm. 1.; "Register van overlijden over het jaar 1902," dalam RA Tilburg, 16 Burgerlijke Stand van de gemeente Tilburg, Nomor Akta 123, lembar 33.

4 De Boer, M.G., dan J.C. Westermann. 1941, hlm. 304.

5"Een pionier," De Locomotief, 11 Februari 1920, hlm. 1.

6 Regeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie, Bagian I (Batavia: Landsdrukkerij, 1909) hlm. 672.

7 Regeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie, Bagian I (Batavia: Landsdrukkerij, 1913) hlm. 796. Lihat juga Lijst van 1914: I. Particuliere ondernemingen in Nederlandsch-Indie op gronden door het gouvernement afgestaan in huur (voor landbouwdoeleinden) en erfpacht. - II. Landbouw-concessien in de bezittingen buiten Java en Madoera. - III. Europeesche landbouw-ondernemingen (huurlanden) in de vorstenlanden op Java. - IV . Ondernemingen in Nederlandsch-Indie werkende op den grondslag van overeenkomsten met de inlandsche bevolking. - V . Specerijperken op Banda (Batavia: Landsdrukkerij, 1915), hlm. 192.

8 Effectenboek voor 1929 I. Binnenland ('s-Gravenhage: S.F. van Oss, 1929), hlm. 1446. Obidzinski, Krystof, "Logging in East Kalimantan, Indonesia: The Historical Expedience of Illegality," Tesis Doktoral Program Studi Antropologi Universitas Amsterdam, 2003, hlm. 149-150.

9 Lindblad, Jan Thomas, Between Dayak and Dutch: The Economic History of Southeast Kalimantan, 1880-1942 (Dordrecht & Providence: Foris Publications, 1988), hlm. 102.

10 Regeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie, Bagian II (Batavia: Landsdrukkerij, 1906) hlm. 868. Lihat juga A Campo, Joseph Norbert Frans Marie, Engines of Empire: Steamshipping and State Formation in Colonial Indonesia (Hilversum: Uitgeverij Verloren, 2002), hlm. 386.

11 A Campo, Joseph Norbert Frans Marie. 2002, Engines of Empire: Steamshipping and State Formation in Colonial Indonesia. Hilversum: Uitgeverij Verloren. hlm. 386.

12 De Boer, M.G., dan J.C. Westermann. 1941, hlm. 306. A Campo, Joseph Norbert Frans Marie. 2002, hlm. 386.

13 Obidzinski, Krystof. 2003, hlm. 150.

14 De Boer, M.G., dan J.C. Westermann, Een halve eeuw paketvaart, hlm. 307; A Campo, Joseph Norbert Frans Marie, Engines of Empire, hlm. 387; "S.M. 'Parapattan' jubileert," De Uitlaat, Th. V , No. 20, 1 November 1950, hlm. 1-2.

15 Obidzinski, Krystof. 2003, hlm. 154.

16 Obidzinski, Krystof. 2003, hlm. 150, 157.35 Obidzinski, Krystof. 2003, hlm. 156.

17 Cools, Agnes. Willebrordus Cools (1802-1882), familiecools.nl, 20 Juli 2025. Diakses pada 3 Januari 2026; "Register van Geboorten voor het jaar 1869," dalam BHIC, 50 Geboorteregister Tilburg 1869, No. 7676, Nomor Akta 151, lembar 156.

18 RA Tilburg, 0918 1880-1890 Deel 27 Kapucijnen, Jezuieten, OLV van Visitatie, Missionarissenvan het Heilig Hart, Franciscanessen, Sint Josefgesticht, No. 1438, lembar 47.

[19] Stamboek, 1890, tanpa halaman.

20"Een pionier," De Locomotief, 11 Februari 1920, hlm. 1.

21 De Boer, M.G., dan J.C. Westermann, Een halve eeuw paketvaart, 1891-1941

22"Passagiers," Algemeen Handelsblad, 25 September 1903, hlm. 3.

23 Tillema, Hendrik Freerk, "Mijn reis door Borneo," Het Koloniaal Weekblad, Th. XXIX, No. 23, 6 Juni 1929, hlm. 265-267.

24 Van Dulm, J. dkk. 2000, hlm. 186, 188; "Militair kampement in Bandjermasin," indischekamparchieven.nl, 11 April 2018. Diakses pada 18 Februari 2026; "Bivak bij militair kampement in Kandangan," indischekamparchieven.nl, 11 April 2018. Diakses pada 18 Februari 2026.

25"S.M. 'Parapattan' jubileert," De Uitlaat, Th. V , No. 20, 1 November 1950, hlm. 2. 42 NA, 2.19.255.01 Plaatsingslijst persoonsdossiers Oorlogsgravenstichting, No. 28969A.

27 NA, 2.19.255.01 Plaatsingslijst persoonsdossiers Oorlogsgravenstichting, No. 28969A.

You can share this post!