Di Tengah Ancaman AS, Uni Eropa Percepat Penguatan Ekonomi, Daya Saing, dan Pertahanan
Sumber Foto: Kompas.id
Internasional

Di Tengah Ancaman AS, Uni Eropa Percepat Penguatan Ekonomi, Daya Saing, dan Pertahanan

Negara-negara Uni Eropa mendorong perbaikan dalam aspek ekonomi dan pertahanan. Di aspek ekonomi, salah satu yang perlu diperbaiki adalah daya saing.

AFP/FREDERICK FLORIN

Oleh Elsa Emiria Leba

21 Jan 2026 20:22 WIB · Internasional

STRASBOURG, RABU — Di tengah ancaman Amerika Serikat, Uni Eropa tersadar untuk cepat-cepat berbenah diri, terutama dalam aspek ekonomi dan pertahanan. UE setuju bahwa dunia sedang memasuki tatanan internasional baru.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Rabu (21/1/2026), memperingatkan, UE harus bergerak lebih cepat untuk meningkatkan ekonomi dan pertahanan blok agar lebih tangguh. Menurut dia, dunia memasuki tatanan baru yang bertumpu pada politik kekuatan (raw power).

”Pergeseran dalam tatanan internasional tidak hanya dahsyat, tetapi juga permanen. Kita perlu meninggalkan kehati-hatian tradisional Eropa,” kata Von der Leyen kepada parlemen Eropa di Strasbourg, Perancis.

Von der Leyen menyebutkan contoh gejolak di dunia saat ini, di antaranya isu Greenland, perang Ukraina-Rusia, serta gejolak di Timur Tengah dan Indo-Pasifik. Isu Greenland tengah menjadi topik panas setelah Presiden AS Donald Trump berencana mencaplok wilayah yang berada di bawah kedaulatan Kerajaan Denmark itu.

”Kita sekarang hidup di dunia yang ditentukan oleh politik kekuatan, baik ekonomi maupun militer atau teknologi maupun geopolitik. Meskipun banyak dari kita mungkin tidak menyukainya, kita harus menghadapi dunia sebagaimana adanya sekarang,” tutur Von der Leyen.

Von der Leyen turut mengkritik ancaman tarif Trump kepada delapan negara yang mendukung kedaulatan Greenland dan Denmark. Ancaman itu dinilainya benar-benar keliru karena justru menjauhkan para sekutu Barat dari tujuan bersama.

”Kita berada di persimpangan jalan. Eropa lebih menyukai dialog dan solusi, tetapi kami sepenuhnya siap untuk bertindak, jika perlu, dengan persatuan, urgensi, dan tekad,” ujar Von der Leyen.

Baca Juga Di Davos, Pemimpin Dunia Lantang Gugat Hegemoni AS

Saat berada di Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Von der Leyen juga menegaskan UE harus berubah secara permanen dalam menyikapi perubahan global. ”Sudah saatnya untuk memanfaatkan kesempatan ini dan membangun Eropa baru yang independen,” tutur Von der Leyen.

Perkuat daya saing

Pada saat yang bersamaan, sejumlah negara dengan kekuatan industri terkemuka di Eropa menyerukan reformasi daya saing di dalam tubuh UE. Jika tidak kunjung terjadi, blok itu berisiko tertinggal dalam persaingan melawan AS dan China.

Reuters, edisi Rabu (21/1/2026), meninjau sebuah dokumen kebijakan dari Jerman dan Italia untuk pertemuan Pertemuan Para Pemimpin di Belgia, pada 12 Februari 2026. Dokumen ini berisi seruan agar ada perubahan besar-besaran dalam tubuh UE untuk memperbaiki iklim bisnis dan investasi.

”Melanjutkan jalur saat ini bukanlah pilihan. Eropa harus bertindak sekarang,” bunyi pernyataan bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.

Kedua pemimpin itu menyampaikan sejumlah usulan, termasuk dengan mengurangi birokrasi, mempercepat persetujuan izin, serta meningkatkan pasar tunggal Eropa. Mengutip data Dana Moneter Internasional (IMF), salah satu hambatan domestik UE adalah tarif internal hingga 44 persen untuk perdagangan barang dan lebih dari 100 persen untuk perdagangan jasa.

Oleh sebab itu, Jerman dan Italia mengusulkan prosedur untuk persetujuan jalur cepat, pencabutan rutin undang-undang yang sudah usang, serta pengawasan terhadap peraturan baru. Para pemimpin Eropa akan menerima laporan berkala.

Jerman dan Italia turut menganjurkan integrasi yang lebih dalam bidang jasa, energi, pasar modal, dan industri digital serta pembentukan bursa saham pan-Eropa. Selain itu, perlu ada revisi aturan guna membantu perusahaan-perusahaan bersaing di tingkat global.

Terkait negosiasi perdagangan, dokumen itu mendesak agar UE mempercepat pembicaraan perdagangan besar dengan negara mitra, termasuk India, Australia, Uni Emirat Arab, dan ASEAN. Apabila diperlukan, UE dapat menggunakan instrumen perdagangan defensif.

Baca Juga Trump Sudah Susun Rencana Invasi Greenland, NATO Masih Berunding

Sepelekan Eropa

Sebagaimana para pemimpin dunia lain, Trump akan menyampaikan pidato di Davos, Rabu. Dia datang terlambat karena ada masalah kelistrikan di pesawat kepresidenan. Trump bakal menghadapi sejumlah pemimpin Eropa yang gusar atas penyataan dan ancamannya terhadap Greenland.

Sementara Trump dalam perjalanan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, Rabu, mengomentari sikap UE. Ia menyarankan agar para pemimpin Eropa menunggu dan mendengarkan argumen Trump terlebih dulu.

”Saya ingin menyampaikan kepada semua orang, tarik napas dalam-dalam. Jangan bereaksi dengan kemarahan spontan dan kepahitan seperti yang kita sedang saksikan ini,” kata Bessent kepada para wartawan.

Rencana Trump terkait Greenland telah menuai respons keras, termasuk dari UE, Denmark, dan Perancis. Sebagai orang yang akrab dengan Trump, Presiden Perancis Emmanuel Macron berjanji untuk melawan ”para pengganggu”.

Pada Rabu, Perancis menyerukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk mengadakan latihan di Greenland. Perancis siap untuk berkontribusi.

Bessent mengatakan, pernyataan dari para pemimpin UE dan Perancis itu bersifat provokatif. ”Kami meminta sekutu kami untuk memahami bahwa Greenland perlu menjadi bagian dari Amerika Serikat,” ujarnya membela diri.

Bessent lalu merujuk pada peristiwa ketika Denmark menjual wilayah Karibia kepada AS tahun 1917. Wilayah itu kemudian berganti nama menjadi Kepulauan Virgin AS. Dalam konteks saat itu, Denmark menjual wilayah Karibia karena faktor ekonomi, politik, dan tekanan geopolitik akibat Perang Dunia I. (AFP/REUTERS)

Serial Artikel

Trump dan Selubung Imperialisme dalam Kebijakan America First

Imperialisme merujuk pada praktik-praktik politik yang membangun hubungan dominasi dan subordinasi antarnegara.

Baca Artikel

Uni Eropa Eropa organisasi kawasan Amerika Serikat donald trump wef 2026 davos Greenland

Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba

|

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H

|

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan