Generasi Z Hadapi Masa Depan Tidak Pasti di Dunia Kerja
Generasi Z di Indonesia tercatat sebagai kelompok dengan tingkat kepuasan terendah terhadap kinerja pemerintah, terutama terkait isu ketenagakerjaan yang menjadi perhatian utama mereka.
Berdasarkan survei terbaru, tingkat kepuasan generasi Z terhadap pemerintah hanya mencapai sekitar 71,5 persen, lebih rendah dibandingkan generasi milenial, Generasi X, dan baby boomer. Kondisi ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi generasi muda dalam memasuki dunia kerja di tengah dinamika sosial-ekonomi saat ini.
Peneliti senior LSI Denny JA, Rully Akbar, mengungkapkan bahwa fenomena rendahnya kepuasan generasi Z berkaitan erat dengan ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja. "Gen Z adalah kelompok yang paling merasakan langsung sulitnya mencari pekerjaan. Waktu tunggu untuk mendapatkan kerja bisa mencapai 9 hingga 16 bulan setelah lulus," ujarnya. Rully menambahkan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil, tidak semua sektor mampu menyerap tenaga kerja baru secara optimal. "Ada mismatch antara output pendidikan dan kebutuhan industri. Banyak lulusan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pelatihan," jelasnya. Selain itu, tingginya proporsi pekerjaan informal juga menjadi persoalan, di mana banyak anak muda bekerja di sektor yang tidak stabil dan tanpa jaminan sosial. "Ini menciptakan ketidakpastian masa depan bagi generasi muda. Mereka tidak hanya menghadapi kesulitan mencari kerja, tapi juga kualitas pekerjaan yang rendah," tambah Rully.
Menurut Rully, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi persepsi generasi Z terhadap pemerintah, khususnya terkait janji penciptaan lapangan kerja. "Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, maka tingkat kepuasan akan lebih cepat turun di kelompok ini," tuturnya. Ia menegaskan bahwa perhatian serius terhadap isu ketenagakerjaan anak muda harus menjadi prioritas, mengingat generasi Z akan menjadi kelompok dominan dalam struktur demografi Indonesia di masa depan.
Fenomena rendahnya kepuasan generasi Z terhadap kinerja pemerintah dalam hal ketenagakerjaan menuntut evaluasi dan langkah strategis yang lebih konkret. Bagaimana pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menjembatani kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan industri menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas lapangan kerja bagi generasi muda. Apakah langkah-langkah yang diambil sudah cukup efektif untuk menjawab tantangan ini?




