Menjaga Suara Rakyat dengan Ambang Batas Parlemen yang Tepat
Sumber Foto: Smart Newsroom
Perspektif

Menjaga Suara Rakyat dengan Ambang Batas Parlemen yang Tepat

Pentingnya Mempertahankan Ambang Batas Parlemen dalam Demokrasi

Dr Ahmad Doli Kurnia Tandjung, Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI, menekankan pentingnya mempertahankan Parliamentary Threshold (PT) dalam sistem demokrasi Indonesia. Pandangan ini disampaikan di tengah wacana penghapusan PT oleh beberapa politisi.

Wacana penghapusan ambang batas parlemen mencuat setelah politisi Partai Amanat Nasional (PAN) mengusulkan agar PT dihapus untuk menghindari suara rakyat yang sia-sia. Namun, Doli menegaskan bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) hanya menghapus ambang batas pencalonan presiden, tidak untuk PT yang dinilai perlu diformulasi ulang.

Menanggapi kekhawatiran mengenai suara rakyat yang tidak terakomodasi, Doli menjelaskan bahwa angka suara yang tidak terakomodasi masih dalam batas toleransi. Fenomena ini juga terjadi di berbagai negara dengan demokrasi mapan. PT dianggap konstruktif dalam memperkuat partai politik dan diperlukan sebagai bagian dari tahapan penting dalam penguatan identitas partai dan peningkatan kualitas demokrasi di Indonesia.

Dr Ahmad Doli Kurnia Tandjung menegaskan bahwa interpretasi Putusan MK harus jelas dan tidak perlu dimaknai secara berlebihan. Ia mengusulkan agar PT juga diterapkan dalam pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk memperkuat struktur politik di tingkat lokal. Dengan demikian, PT dapat menjadi instrumen penting dalam membangun sistem politik yang lebih stabil dan representatif.

Mempertahankan ambang batas parlemen menjadi langkah strategis dalam memperkuat demokrasi Indonesia. Hal ini tidak hanya membantu dalam penyaringan partai politik yang berkualitas, tetapi juga memastikan stabilitas politik dalam jangka panjang. Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana formulasi PT yang ideal agar dapat mengakomodasi dinamika politik tanpa mengorbankan suara rakyat?